Sempat Jadi Jurnalis, dapat Tawaran Kerja di Thailand

Agus Sri Giyanti, Penyandang Tuna Netra Lulus Cumlaude di Udinus

546
MENGINSPIRASI: Agus Sri Giyanti (tengah) bersama empat wisudawati Udinus lainnya. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENGINSPIRASI: Agus Sri Giyanti (tengah) bersama empat wisudawati Udinus lainnya. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

”Nothing is impossible in this world. Since you belive you can do that. Where there is a will there will be the a way.Kalimat itu menjadi penutup pidato Agus Sri Giyanti di depan ratusan wisudawan Universitas Dian Nuswantoro (Udinus). Agus Sri adalah penyandang tuna netra yang lulus dengan predikat cumlaude.

SIGIT ANDRIANTO

RADARSEMARANG.COM – PERJUANGAN Agus Sri Giyanti terbayarkan. Mahasiswi tuna netra jurusan Sastra Inggris Udinus ini berhasil menyandang gelar sarjana. Kini, nama Agus Sri Giyanti lebih panjang dengan tambahan gelar di belakangnya. Sri memang bukan difabel pertama yang berhasil meraih gelar sarjana di universitas umum. Namun pencapaian Agus Sri pantas untuk diapresiasi, sekaligus menjadi motivasi.

Sebagai penyandang difabel, gelar ini tidaklah mudah didapatkan. Sebab, ia harus berjuang lebih keras dibanding teman-temannya semasa kuliah. Agus Sri harus menyesuaikan dengan kondisinya. Beberapa tantangan yang harus ditemui adalah ketika harus mencari kelas. Selain itu, ia sedikit kepayahan ketika ada mata kuliah yang berhubungan dengan membaca grafik. Namun bukan Agus Sri jika lantas menyerah. Beruntung, masih ada sahabat-sahabat dan mahasiswa lain yang setia membantunya.

Tidak sekadar lulus dan mendapat gelar cumlaude, perempuan asal Wonogiri ini bahkan sudah mendapatkan tawaran kerja di Bangkok, Thailand, atas keaktifannya selama menjadi kuliah. Ia katakan, kedutaan besar Amerika menawarkan pekerjaan karena tertarik dengan isu difabel yang dibawanya pada event Woman Leadership Academy, sebuah training kepada perempuan-perempuan se-Asia Tenggara dari berbagai latar belakang.

”Pada acara kemarin ada 5 orang yang setuju mengangkat isu saya tentang disabilitas. Saya sempat share dengan pimpinan alumni Woman Leadershipship Academy dari kedutaan Amerika dan ditawari, hanya saja belum diberikan jobdesk,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Saat diwawancara koran ini, tangannya memegang buket bunga dan setangkai mawar hadiah dari teman-temannya. Ia memang dinilai memberikan inspirasi kepada orang di sekitarnya.

Sementara menunggu kepastian tawaran, Agus Sri juga ingin bekerja di Semarang sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya. Menjadi translator ataupun pekerjaan yang bisa dilakukan dengan kemampuan yang dimiliki. Dengan bekerja di Semarang, ia berharap bisa meneruskan perjuangannya untuk mendorong terciptanya suasana kerja inklusif.

”Karena saya lihat, pekerjaan di sini itu belum semua mengakomodasi difabel, terutama tuna netra. Saya pengin bisa kerja dengan kondisi saya ini juga teman-teman yang lainnya,” ujarnya.

”Pekerjaan yang sesuai dengan bidang saya tentunya. Menjadi jurnalis lagi juga oke,” ujarnya sembari tertawa.

Perempuan yang harus merelakan penglihatannya sejak duduk di bangku SMA ini memang sempat menjadi jurnalis di sebuah media alternatif. Media yang mengadvokasi para difabel. Ia tertarik memperjuangkan isu tentang difabel. Terlebih memberikan suntikan motivasi melaui tulisan-tulisan hasil karyanya.

Untuk menulis, Agus Sri menggunakan aplikasi. Dengan aplikasi ini, ia bisa mengubah tulisan menjadi suara. Sementara untuk mengetik, ia sudah terlatih.

Kegigihan Agus Sri membuat sahabat sahabatnya kagum. Mereka yang selalu menemani Agus Sri adalah Rina, Febri, Elvia, dan Zahra sedari awal kuliah. Bukan karena kasihan, mereka justru kagum dengan Agus Sri. Dari Agus Sri, mereka mendapatkan pelajaran kehidupan. Betapa semangat tinggi sangat dibutuhkan untuk dapat mencapai suatu hal.

”Saya kagum sama Mbak Agus Sri. Perjuangannya sangat keren. Saya kagum dari pertama kali kenal,” ujar Rina, sahabat Agus Sri yang juga sering mengantar jemput Agus Sri untuk pergi kuliah. (*/aro)