Deflasi  Jateng Perlu Diwaspadai

511

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Kecenderungan penurunan harga pangan di Jateng atau deflasi pada bulan Maret lalu, harus diwaspadai. Sebab, deflasi di satu sisi akan memperbaiki daya beli masyarakat kota sebagai konsumen. Namun, di sisi lain, hal itu akan menekan keuntungan bagi petani sebagai produsen pangan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng, provinsi ini mengalami deflasi sebesar 0,004 persen pada Maret 2018 dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 130,94. Deflasi tertinggi terjadi di Purwokerto sebesar 0,44 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 129,19 yang disebabkan turunnya berbagai harga komoditas.

Anggota Komisi VI DPR RI, Juliari Batubara menerangkan terjadinya deflasi harus diwaspadai. Sebab, jika tidak terkendali dikhawatirkan akan memperlebar jurang kesenjangan ekonomi. “Tetap harus dikendalikan. Jika deflasi tidak terkendali, dikhawatirkan memperlebar jurang kesenjangan ekonomi antarkelompok masyarakat di kota dan desa yang notabene banyak beprofesi sebagai produsen dan pemasok bahan pangan,” katanya.

Menurut dirinya, harus ada keseimbangan antara deflasi dan inflasi agar tidak terlalu tinggi. Dengan keseimbangan ini, baik produsen maupun konsumen akan sama-sama diuntungkan. Di satu sisi konsumen bisa membeli dengan harga wajar. Sementara di sisi lain, harga produksi petani juga tidak terlalu jatuh. “Intinya tetap dipantau dan diwaspadai, terlebih menjelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri nanti,” tambahnya.

Pengamat Ekonomi Undip FX Sugiyanto mengatakan, jika tingginya inflasi membuat pemerintah berusaha untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok, upaya tersebut dinilai cukup efektif menekan laju inflasi yang tinggi. “Pada Januari-Februari lalu Jateng mengalami inflasi, namun Maret lalu malah mengalami deflasi sebesar 0,004 persen hal ini terjadi karena sisi suplai, distribusi barang lancar, kegagalan panen tidak terjadi,” katanya.

Ia menjelaskan jika upaya pemerintah untuk menstabilkan harga bahan kebutuhan pokok melalui operasi pasar, menjaga ketersediaan stok di pasar cukup, tampaknya sangat berhasil.  Namun ada beberapa daerah yang masih  inflasi. Yakni Semarang, Solo, dan Kudus pada Maret 2018, menurut dia masih wajar. “Saya rasa masih wajar, karena ketiganya merupakan kota besar dengan dinamika kebutuhan masyarakat. Saat ini informasi mengenai harga berbagai barang kebutuhan pokok sekarang juga lancer dan transparan,” ucapnya. (den/ric)