Pesertanya Mahasiswa, Dokter Hingga Kontraktor

Syahrul Falikh, Mahasiswa UIN Walisongo Owner Tempat Belajar Bahasa Asing

597
BERNUANSA ISLAMI: Pendiri OBEID Course, Syahrul Falikh (empat dari kanan) berfoto bersama Dosen Bahasa Arab UIN Walisongo asal Mesir, Syeikh Rifa’i (tengah) dan siswa yang sedang kursus Bahasa Arab. (DOKUMEN PRIBADI)
BERNUANSA ISLAMI: Pendiri OBEID Course, Syahrul Falikh (empat dari kanan) berfoto bersama Dosen Bahasa Arab UIN Walisongo asal Mesir, Syeikh Rifa’i (tengah) dan siswa yang sedang kursus Bahasa Arab. (DOKUMEN PRIBADI)

RADARSEMARANG.COM – Di sela kuliah di UIN Walisongo Semarang, Syahrul Falikh, mengelola lembaga pembelajaran bahasa asing. Dia juga menjadi pengajar Bahasa Arab di MTs dan MA, serta kitab kuning di pondok pesantren. Seperti apa?

Siti Qoniatun Ni’mah

SEJAK kecil Syahrul Falikh sudah lekat dengan kehidupan pondok pesantren. Hal ini membuatnya menjadi sosok yang mandiri dan mempunyai ambisi yang tinggi. Mahasiswa Manajemen Dakwah UIN Walisongo ini ternyata sejak lama memiliki tekad untuk dapat mendirikan sebuah lembaga pendidikan dan kursus bahasa asing. Hal itu dikarenakan kegelisahannya akan bahasa yang sudah mulai termarginalkan, terlebih Bahasa Arab.

“Latar belakang saya yang pernah di luar negeri selama 4 tahun dan pernah bepergian hingga ke 7  negara yang berbeda, membuat saya ingin menyalurkan bahasa asing ke orang lain,” ujar mahasiswa yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Syekh Ahmad Kaftaru Syiria ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia pun terinspirasi membuat tempat belajar atau kursus bernuansa Islami dan qurani. Dan dengan usaha maksimalnya, akhirnya keinginan untuk mendirikan lembaga pembelajaran bahasa asing itu berhasil diwujudkan.

“Sekitar satu tahun lalu, tepatnya Januari 2017, saya mendirikan lembaga kursus bahasa asing yang saya beri nama OBEID (Organization of Bilingual Education Indonesia-Damascus) Course. OBEID Course adalah sebuah tempat pembelajaran bahasa asing, yang juga sebagaimana bimbel yang lain, di dalamnya terdapat sistem kelas bimbingan belajar, les privat, tahfidz Alquran, pembelajaran kitab kuning, dan lain-lain,” katanya.

Dikatakan, untuk pembelajaran Alquran dan kitab kuning, ia tidak menarik biaya sedikitpun. Sebab, saat ini sudah jarang generasi muda dan tua yang mau belajar Alquran, apalagi kitab kuning. Sekarang ini, yang justru semangat belajar Alquran adalah anak-anak usia TK di setiap TPQ.

“Tempat belajar bahasa asing di zaman sekarang sudah sangat banyak. Namun yang pembelajarannya mengenalkan budaya dan dialek dari bahasa tersebut sangatlah jarang. Hal itu yang menjadi hal yang membedakan OBEID Course dengan bimbel lain. Selain itu, OBEID Course juga memberikan peraturan bagi setiap pengajar untuk mengawali proses pembelajaran dengan membaca Alquran (mengaji) terlebih dahulu,” bebernya.

Diakui, dalam mengelola lembaga belajar ini, ia menemui sejumlah kendala. Di antaranya, kendala dalam manajemen OBEID Course yang kompleks dan berwarna. Sebab, OBEID Course didirikan dengan sistem kekeluargaan dan dana yang sangat minim.

“Selain itu kendala kami juga pada rekrutmen pengajar. Kami sangat selektif dalam merekrut siapapun yang siap membantu di OBEID Course. Kami sangat menjunjung kualitas dan profesionalitas dalam mengajar, seperti halnya tes bacaan Alquran, tes hafalan Alquran dan tes penguasaan materi yang akan diajarkan seperti halnya matematika, IPA dan lain-lain,” jelas pria yang pernah menjabat sekretaris Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Damaskus Syiria.

Karena dana minim, lanjut dia, beberapa kali kantor OBEID Course harus berpidah-pindah, mencari kontrakan yang harga sewanya terjangkau. Namun seiring berjalannya waktu, kini nama OBEID Course mulai dikenal masyarakat. Kini peserta yang mengikuti pembelajaran di lembaga ini berasal dari beragam kalangan, mulai mahasiswa, dokter, kontraktor, serta berbagai profesi lainnya.

Selain sebagai pendiri dan pengajar di OBEID Course, Falikh mempunyai kesibukan lain. Ia juga menjadi pengajar Bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) Yanbu’ul Qur’an Menawan Kudus, dan kitab kuning di Pondok Pesantren Al-Irsyad Kudus. Praktis, ia harus pandai me-manage waktu.

Manajerial time, disiplin, dan fokus. Itu  yang selalu saya pegang. Dalam seminggu, saya bagi 3 hari di Kudus, 3 hari di Semarang, dan 1 hari libur. Sabtu, Minggu, Senin di Kudus dan Selasa, Rabu, Kamis di Semarang. Sedang untuk Jumat, libur,” tuturnya.

Falikh sendiri hafal Alquran sejak usia 12 tahun. Ia pernah mendapat predikat sebagai wisudawan terbaik penghafal Alquran. “Untuk menjaga hafalan agar tidak lupa, biasanya saya istiqomahkan untuk membaca Alquran 3 juz setiap hari. Selain itu, di Kudus juga ada santri yang menghafalkan Alquran dengan setoran hafalan kepada saya. Jadi, dengan kegiatan tersebut, dapat menunjang hafalan saya agar tetap terjaga,” tutur putra pasangan H Sholihin dan Hj Siti Khodijah Al-Hafidzah ini. (*/aro)