Lebih Fleksibel, City Tour Anti-Mainstream

Umrah Backpacker Kini Jadi Tren

345
TAK ADA KENDALA : Jamaah umrah backpacker dan reguler melakukan foto bareng 13 November 2017 silam. (ISTIMEWA)
TAK ADA KENDALA : Jamaah umrah backpacker dan reguler melakukan foto bareng 13 November 2017 silam. (ISTIMEWA)

Umrah dengan cara backpacking kian diminati. Mulai muncul sejak tahun 2010an, kini umrah dengan biaya relatif miring ini telah menarik minat banyak orang, utamanya mereka yang memiliki jiwa muda ataupun jiwa traveler.

RADARSEMARANG.COM – TERDAPAT dua jenis umrah backpacker. Pertama, murni backpacker, dalam artian tidak menggunakan biro umrah. Untuk yang satu ini, sudah ada komunitasnya. Sementara itu, terdapat pula umrah backpacker dengan jasa biro umrah atau travel agent. Dalam hal ini, biro umrah bertugas membuatkan visa. Umrah backpacker dengan biro ini, oleh sebagian orang masih dianggap bukan sebagai backpacker-an dalam artian sebenarnya.

Mengenai harga, umrah backpacker memang relatif lebih murah. Yakni sekitar 17 juta-an rupiah. Harga yang lebih murah kerap membuat banyak kalangan mempertanyakan kesahihan umrah yang mulanya menyasar anak muda ini. Bukan tanpa alasan. Sebab, Kementrian Agama (Kemenag) pernah mengeluarkan pernyataan bahwa masyarakat perlu meragukan umrah berbiaya di bawah Rp 20 juta. Terlebih paska munculnya sejumlah kasus biro perjalanan umrah berbiaya murah dan ujung-ujungnya bermasalah.

Najla Annisa, supervisor admin dan marketing Hasanah Tour &Travel Perwakilan Semarang menjelaskan, biaya umrah backpacker bisa lebih murah karena ada sejumlah pos biaya yang ditekan. Salah satunya, biaya makan dan hotel.

”Untuk umrah backpacker memang tidak mendapatkan makan. Justru ini yang membuat asyik, karena mereka bisa menjelajah makanan di sana. Tidak terikat waktu dan bisa makan dengan siapa saja,” jelas Najla kepada Jawa Pos Radar Semarang.

”Dari biro juga tidak memberikan koper. Tapi untuk batik, buku perjalanan, id card, itu kami kasih. Kami juga kasih bonus untuk yang laki-laki pakaian ihram dan yang perempuan mukena,” imbuhnya.

Meskipun kesan backpacker adalah kemana-mana mandiri, namun selama menjalankan ibadah umrah, jamaah tetap disediakan pemandu, ustadz pembimbing, muthowif serta tour leader. Dengan demikian, para jamaah umrah backpacker tidak perlu khawatir terkendala bahasa.

Najla menceritakan, awalnya umrah backpacker memang ditujukan untuk memfasilitasi generasi muda. Harapannya, anak muda bisa menjalankan ibadah umrah dengan harga lebih murah. Semakin ke sini, umrah backpacker juga diminati oleh kalangan berumur. Namun tetap dengan jiwa muda. Bahkan, ada pula yang mengajak satu keluarga untuk ibadah backpacker-an ini.

”Selain murah, rute city tour-nya berbeda dengan umrah yang reguler. Tempat-tempat yang sebelumnya tidak masuk list daftar perjalanan, dengan umrah backpacker bisa dikunjungi,” jelasnya.

Di tour dan travel tempat ia bekerja, pemberangkatan umrah Rp 17 juta dimulai dari Kuala Lumpur, Malaysia. Biaya menuju Kuala Lumpur, ia katakan, menjadi tanggungan para jamaah. Tapi bukan traveler kalau tidak punya cara. Meskipun demikian, ada pula jamaah yang meminta diberangkatkan bersamaan. Agen, dalam hal ini, tetap mencarikan tiket untuk permintaan seperti ini.

Silakan beri komentar.