Kota Semarang Capai IPM Tertinggi

561
GROUND BREAKING: Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, saat menghadiri ground breaking tiang pancang pembangunan dedung 5 lantai Rumah Sakit Pantiwilasa Dr Cipto, Jumat (23/3). (Rizal Kurniawan/Jawa Pos Radar Semarang)
GROUND BREAKING: Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, saat menghadiri ground breaking tiang pancang pembangunan dedung 5 lantai Rumah Sakit Pantiwilasa Dr Cipto, Jumat (23/3). (Rizal Kurniawan/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG  Kota Semarang dahulu kerap dicap sebagai kota yang kemajuannya tertinggal dibanding daerah-daerah lain. Hal ini tergambar dari capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Semarang yang rendah. Bahkan sebagai Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah, menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), IPM Kota Semarang pada 2010 sebesar 76,96 jauh lebih rendah dibanding kota-kota lain di Jawa Tengah, sebut saja Kota Surakarta dengan IPM sebesar 77,45 atau  Kota Salatiga dengan IPM sebesar 78,35.

Rendahnya angka IPM tersebut tentu saja menjadi sebuah hal yang memprihatinkan, apalagi jika menilik IPM merupakan representasi kesejahteraan masyarakat dalam suatu daerah, karena terdiri atas komponen pendidikan, kesehatan, ekonomis, sosial, dan lainnya.

Namun capaian buruk tersebut tinggal kenangan setelah Kota Semarang berhasil menjelma sebagai daerah dengan IPM tertinggi di Jateng. Dalam rilis BPS disebutkan, IPM Kota Semarang pada 2016 tercatat 81.19, lebih tinggi dari Salatiga dengan IPM 81.14 atau Surakarta dengan IPM 80.76.

Tak hanya di Jateng, dalam lingkup nasional, IPM Kota Semarang juga lebih tinggi dibanding kota-kota besar lainnya.   “Tercatat pada tahun 2011, IPM Kota Semarang hanya sebesar 77.58, jauh di bawah IPM Kota Surabaya yang sebesar 77.62, dan Bandung dengan 78.12. Namun itu dulu, saat ini IPM kita sudah jauh lebih tinggi dari yang lainnya, yang berarti ada sebuah lompatan peningkatan kesejahteraan masyarakat Kota Semarang,” tutur Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, saat menghadiri Ground Breaking Tiang Pancang Pembangunan Gedung 5 Lantai Rumah Sakit Pantiwilasa Dr Cipto, Jumat (23/3).

Hendi menjelaskan, hal tersebut perlu disampaikannya mengingat Rumah Sakit Pantiwilasa Dr Cipto merupakan salah satu mitra strategis Pemerintah Kota Semarang dalam pembangunan kesehatan, yang mana merupakan salah satu komponen penentu Indeks Pembangunan Manusia.

Menurut Hendi –sapaan akrabnya– pembangunan kesehatan dan pendidikan adalah menjadi komponen utama yang harus dikembangkan untuk langkah pembangunan yang mendasar. “Pemerintah Kota Semarang sudah meluncurkan program berobat gratis bagi seluruh masyarakat dengan Universal Health Coverage (UHC), tapi kalau tempat tidur rumah sakitnya tidak mencukupi, maka tidak akan dapat berdampak maksimal,” tegas Hendi.

Karena itu, saya mengapresiasi Rumah Sakit Pantiwilasa Dr Cipto yang terus melakukan pembangunan pelayanan kesehatan di Kota Semarang, salah satunya melalui pembangunan gedung berlantai 5 ini,” tuturnya.

Direktur Rumah Sakit Pantiwilasa Dr Cipto Semarang, Daniel Budi Wibowo, menjelaskan, gedung 5 lantai tersebut memiliki total seluas 4.600 m2 di atas lahan seluas 1.109 m2.  “Dengan penambahan gedung 5 lantai tersebut nantinya Rumah Sakit Pantiwilasa Dr Cipto ini akan ada penambahan ruang rawat, instalasi kamar operasi baru,, serta instalasi pengolah limbah cair,” detailnya.

Daniel juga mengapresiasi program berobat gratis UHC yang diluncurkan oleh Pemerintah Kota Semarang. Ia menyebutkan dengan adanya program UHC, jumlah pasien Rumah Sakit Pantiwilasa Dr Cipto meningkat pesat. “Kunjungan rawat jalan sekitar 800 pasien per hari, dan sekitar 40 pasien baru yang dirawat di ruang perawatan,” bebernya. (zal/aro)

Silakan beri komentar.