Mistar Karet Tingkatkan Keberanian Lompat Tinggi

232
Oleh: Siti Afidah SPd
Oleh: Siti Afidah SPd

RADARSEMARANG.COM – PERBEDAAN gender sangat dirasakan oleh guru olahraga. Lain halnya dengan mata pelajaran lain yang tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Bagaimana tidak? Mata pelajaran yang berkarakter aktivitas fisik menuntutnya tanpa mengenali status laki-laki dan perempuan dalam hal penguasaan kompetensi tertentu. Standardisasi ketercapaian yang sama antara siswa laki-laki dan perempuan membuat guru mata pelajaran harus berpikir dua kali. Bagaimana supaya pada kompetensi yang sama mampu dicapai tanpa memandang perbedaan gender. Sulit memang, apalagi guru olahraganya seorang laki-laki. Bagaimana guru laki-laki harus sensitif terhadap siswa perempuan. Itulah yang menjadikan perenungan diri seorang guru olahraga laki-laki.

Sebagian besar pencapaian pemerolehan hasil belajar siswa pada bidang studi olahraga antara laki-laki dan perempuan di dominan tinggi laki-laki. Demikian pula antara pencapaian hasil belajar pengetahuan dan keterampilan cenderung lebih tinggi keterampilan. Tampak terjadi ketidakseimbangan antara kemampuan dan laki-laki dalam kekuatan fisik. Walaupun sebagian siswa perempuan juga ada yang berkompeten di bidang olahraga. Tetapi persentasenya kecil dibanding laki-laki.

Tingkat keberanian yang cukup rendah oleh siswa perempuan bahkan sebagian besar siswa perempuan mengharuskan guru olahraga sedapat mungkin mengelola proses pembelajaran dengan baik guna mencapai tujuan pembelajaran. Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi, di antaranya bisa jadi karena takut jatuh, trauma, takut ketinggian, takut cidera terkena mistar, bahkan fobia. Hal ini terjadi ketika guru menyampaikan materi lompat tinggi pada kelas XI.

Materi pokok ini  tidak hanya menuntut pemahaman pengetahuan semata, lebih dari itu membutuhkan kekuatan fisik dan mental yang tinggi. Bahkan sebelum dilakukan penilaian lompat tinggi ini guru sudah memasang mistar besinya supaya dipakai untuk simulasi dulu sebelum pengambilan nilai. Namun yang terjadi adalah siswa perempuan kurang aktif dalam mencoba melompati mistar tersebut. Sangat berbeda memang dengan siswa laki-laki yang mencoba melompati mistar besi dengan sempurna. Meskipun ukuran mistar besi yang semakin tinggi.

Menumbuhkan sikap mental berani memang tak semudah membalikkan tangan. Membutuhkan spirit dalam diri orang itu sendiri, selain dibutuhkan pula penguatan-penguatan dari seorang guru. Bagaimana seorang guru bisa meyakinkan kepada semua siswanya bahwa mereka mampu dalam melakukan lompat tinggi dengan baik. Kata-kata positif yang disampaikan oleh guru olahraga saat menyampaikan materi lompat tinggi ini ternyata cukup mempengaruhi, tetapi belum signifikan. Bentuk penguatan ini memang berpengaruh karena ketika siswa dapat menerima kata-kata tersebut dengan baik, maka akan masuk pada alam bawah sadar dan tertanam dalam pikiran. Sehingga akan menjadikan kekuatan tersendiri bagi siswa tersebut.

Selain penanaman mental pada siswa, pengetahuan teori sangatlah penting untuk dipahami siswa supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan ataupun cidera saat melakukan lompat tinggi. Sebagai seorang guru tentu mengharapkan tujuan di setiap kegiatan proses pembelajarannya akan tercapai. Oleh karenanya jauh hari sebelum menyampaikan materi tentu sudah melakukan analisa terkait dengan pemanfaatan model, media, pendekatan maupun metode yang hendak digunakan. Selain memahami karakteristik siswa, materi juga sarana prasarana sudah yang tersedia.