Bersihkan Diri sebelum Nyepi

409
KHUSYUK: Ribuan umat Hindu Kota Semarang dan sekitarnya saat mengikuti prosesi ibadah melasti di Pantai Marina Semarang, kemarin. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KHUSYUK: Ribuan umat Hindu Kota Semarang dan sekitarnya saat mengikuti prosesi ibadah melasti di Pantai Marina Semarang, kemarin. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Di tengah rintik hujan, ribuan umat Hindu Kota Semarang dan sekitarnya mengikuti prosesi ibadah melasti di Pantai Marina Semarang, Minggu (11/3) pagi. Upacara melasti ini sebagai bentuk membersihkan diri sebelum hari Raya Nyepi yang akan berlangsung pada Sabtu (17/3) mendatang.

Diiringi alunan gamelan khas Pulau Dewata, prosesi ibadah berlangsung khusyuk. Para peserta mengenakan busana adat Bali. Selain dari Kota Semarang, mereka datang dari Demak, Kendal, dan Salatiga. Peserta ibadah berangkat pukul 06.00 dari Pura Giri Natha di Jalan Sumbing, Gajahmungkur menuju Pantai Marina.

NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG
NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG

Setibanya di pantai mereka menata sarana upacara tersebut dengan rapi. Penjor, Pelinggih dan tedung ditancapkan di tanah, lalu di sekitarnya diletakkan banten. Aneka sesaji juga diletakkan di meja depan. Setelah semua sarana upacara diletakkan pada tempatnya, kemudian umat duduk berbaris menghadap ke laut. Duduk paling depan seorang pemangku yang memimpin jalannya ritual dengan genta di tangan. Sesekali genta dibunyikan, lalu memercikan air suci (tirta). Suasana terasa khusyuk. Setelah doa, seluruh Banten kemudian diletakan di pinggir pantai.

Melasti sendiri merupakan prosesi awal ibadah Nyepi yang akan dilanjutkan dengan Tawur Agung, Nyepi, Ngrembak Geni, dan Darmasanti. “Melasti berlangsung di tepi pantai dengan tujuan menyucikan diri dari segala perbuatan buruk pada masa lalu dan membuangnya ke laut,” jelas Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Semarang, Nengah Wirta Darmayana.

Nengah mengatakan, prosesi melasti esensinya melakukan penyucian alat-alat dan sarana upacara atau pretima. Sebenarnya, kata dia, tidak hanya laut, tetapi bisa juga di sungai, danau maupun sumber air seperti tuk. “Kenapa kok di laut? Karena kita mengharapkan tirta amerta itu berasal dari sumber air yang bisa menyucikan secara spiritual yang disimbolkan menggunakan air laut itu,” terangnya.

Setelah prosesi  mengambil sumber tirta amerta dari laut, dilanjutkan persembayangan bersama yang dipimpin Pinandita Mangku Gede Drs I Nyoman Wedu didampingi semua pinandita yang ada di Kota Semarang dan Kedungsepur. (hid/aro)

Silakan beri komentar.