12 Titik Banjir Harus Ditangani Serius

309
Hadi Santoso (ISTIMEWA)
Hadi Santoso (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pemprov Jateng dan pemerintah pusat harus lebih serius menuntaskan program penanganan banjir di Jawa Tengah. Pasalnya, saat ini ada 12 titik rawan banjir di Jateng yang membutuhkan dukungan pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Wakil Ketua Komisi D DPRD Jateng, Hadi Santoso, mengatakan, persoalan banjir selalu terjadi setiap tahun. Sebanyak 12 titik yang butuh penanganan serius adalah sistem Sungai Cisanggarung Kabupaten Brebes, sistem Sungai Babakan Brebes. Kemudian Sungai Jragung Tuntang, Demak, serta sistem Sungai Srang Lusi Juwana (Seluna) di Grobogan, Kudus, Pati, Jepara dan Demak.

Selain itu, sistem Sungai Pemali khususnya lanjutan penanganan longsoran tebing Desa Tengki Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes; tanggul laut terintegrasi jalan tol Semarang-Demak dan Kota Semarang dan Kabupaten Demak sebagai finalisasi penanganan banjir rob Kota Semarang. “Ada 12 titik utama dan itu harus diprioritaskan penyelesaiannya. Karena itu, merupakan titik banjir setiap tahun,” ujarnya.

Di Kota Semarang, sistem Sungai Plumbon dan Bringin harus dibenahi. Terjadinya bencana alam banjir besar di berbagai titik di Jateng, salah satunya penanganan banjir melalui titik sungai belum tuntas. “Kami mendesak pemerintah serius menangani ini. Karena ada banyak problem SDA yang menjadi kewenangan pusat yang ada di Provinsi,” tambahnya.

Politisi PKS ini juga meminta, Pemprov Jateng segera menyelesaikan perencanaan penanganan sungai secara menyeluruh. Karena banyak sungai yang merupakan kewenangan Pemprov Jateng menjadi penyebab banjir. Seperti Sungai Pemali dan Sungai Bodri Kuto. “Saat ini, dua sungai ini menjadi penyebab banjir. Pemprov Jateng harus segera menyelesaikan perencanaan penanganan sungai secara menyeluruh,” tambahnya.

Khusus untuk Sungai Pemali, ada 40 titik rawan tanggul jebol, sehingga untuk jangka pendek, pemerintah harus melakukan dua hal. Yakni, penguatan tanggul dengan melakukan penguatan di belakang tanggul. Kemudian, yang kedua melakukan penguatan dinding sungai dengan pembangunan skrep maupun pemasangan bronjong. “Jangka panjangnya, normalisasi serta pelurusan alur sungai,” tambahnya. (fth/ida)

Silakan beri komentar.