Tradisi Nikahi Tetangga, Olah MCK Jadi Biogas

Jejak Kiai Bustaman di Gang Sempit Kampung Bustaman

424
TRADISI GEBYURAN : Ketua RW 3, Wahyuno, menunjukkan sumur peninggalan Kiai Bustaman yang dulunya digunakan menggebyur cucu-cucunya menjelang puasa. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TRADISI GEBYURAN : Ketua RW 3, Wahyuno, menunjukkan sumur peninggalan Kiai Bustaman yang dulunya digunakan menggebyur cucu-cucunya menjelang puasa. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM Gang sempit yang terletak RT 5 RW 3 Jalah MT Haryono, Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah itu menyimpan sederet inspirasi. Sebuah kampung pengap dan berjubal penduduk dengan rumah berhimpitan. Memiliki jejak tradisi budaya turun temurun dari nenek moyang hingga sekarang.

Mulai dari khas sentral kuliner kambing, tradisi gebyuran tahunan, kental gotong royong, hingga kekompakan mengelola MCK (Mandi, Cuci, Kakus) umum dengan mengolah kotoran manusia menjadi biogas. Biogas tersebut kemudian digunakan warga setempat sebagai pengganti elpiji untuk memasak.

Hal yang unik lagi, warga Kampung Bustaman memiliki tradisi menikahi tetangga sendiri. Sehingga ratusan orang yang berumah tangga di kampung tersebut, hampir semuanya memiliki hubungan saudara. Kampung ini termasuk kampung tua di Kota Semarang.

Catatan sejarah menyebut pelukis fenomenal Indonesia Raden Saleh lahir di Kampung Bustaman, Semarang, merupakan putra dari Husein bin Alwi bin Awal bin Yahya, sedangkan ibunya berdarah ningrat Jawa-Arab dari kakeknya, Abdullah Muhammad Bustaman atau dikenal Kiai Ngabei Kerta Basa atau Kiai Bustaman.

Meski tidak ada bukti otentik, sejumlah situs peninggalan Kiai Bustaman hingga saat ini masih bisa dilihat di Kampung Bustaman. Di antaranya adalah sebuah langgar atau Musala Bustaman, saat ini diberi nama Musala Al Barokah. “Dulunya, terbuat dari kayu dan sebagian tembok. Namun sekarang telah dibangun menggunakan material modern,” kata warga setempat yang juga Ketua RW 3, Wahyuno, ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (3/3) kemarin.

Selain itu, tepatnya di samping musala, terdapat sebuah sumur tua. Sumur tua tersebut oleh warga setempat dipercaya sebagai jejak peninggalan Kiai Bustaman sang perintis kampung. “Sumur dengan kedalaman kurang lebih 8 meter itu untuk mengisi kulah (tempat menampung air wudhu) menggunakan timbo. Dulu juga terdapat keranda untuk mengusung jenazah,” katanya.

Selain itu, terdapat dua rumah tua. Namun pernah habis dilalap si jago merah pada 1961 silam. Salah satu bangunan yang masih utuh dari jilatan api adalah musala dan sumur. “Hingga sekarang, sumur tersebut masih aktif digunakan warga. Bahkan tidak pernah kering. Kurang lebih sejak tiga tahun silam, warga dipelopori oleh Pak Hari bersama Komunitas Hysteria Semarang, Adin dan kawan-kawan, menghidupkan tradisi lama, yakni tradisi gebyuran tahunan setiap menjelang puasa Ramadan. Selain itu, ada tradisi Tengok Bustaman,” kata Wahyuno.

Tradisi gebyuran, lanjutnya, warga sekampung berkumpul saling menggebyur menggunakan air sumur tersebut. “Tidak hanya warga setempat, siapa saja yang datang di kampung tersebut dilempar air. Biasanya setelah salat Asar, kurang lebih dua jam sebelum maghrib menjelang puasa Ramadan. Tak peduli lurah, camat, atau siapa saja yang datang, digebyur menggunakan air sumur. Itu telah menjadi tradisi,” katanya.

Silakan beri komentar.