Perjuangan Guru di Sekolah Pinggiran

408
Oleh :Dwi Astutik
Oleh :Dwi Astutik

RADARSEMARANG.COM – MENJADI beban bagi seorang guru, apabila selama mengajar di sekolah tempat guru tersebut bertugas, tidak satu pun menunjukkan prestasi yang membanggakan.  Tidak bisa dipungkiri bahwa prestasi sekolah dilahirkan oleh guru  dan peserta didik yang hebat. Guru yang menjadi agen perubahan  seharusnya memiliki semangat yang tangguh dan hebat. Guru yang hebat tentu akan melakukan pendidikan atau pengajaran yang baik, dalam  arti menggunakan cara – cara baik, sesuai perkembangan zaman. Oleh karena itu, guru harus selalu belajar untuk membantu menyiapkan generasi  penerus bangsa  yang berprestasi dan berkualitas.

Akar permasalahanya   adalah bagaimana kita bisa menjadi guru yang hebat di sekolah pinggiran? Karena tidak bisa dipungkiri bahwa menjadi guru di sekolah pinggiran banyak sekali rintangan  dan tantangan yang harus dihadapi. Mulai dari sumber daya manusianya, guru, input peserta didik yang memiliki pengetahuan kurang, kurang motivasi dalam belajar, lingkungan keluarga dan sosial  yang tidak mendukung,  sarana prasarana yang terbatas, managemen sekolah yang kurang bagus, belum lagi masalah keuangan. Guru sebagai agen pembaharuan janganlah patah semangat, untuk memberikan yang terbaik bagi sekolah tempat kita mengajar dan mendidik. Guru yang bersemangat dan hebat setidaknya dapat mengupayakan hal yang terbaik.

Hal pertama adalah totalitas dalam mengajar. Banyak guru yang pelit perhatian terhadap peserta didik. Beberapa guru, apalagi kalau guru honorer yang memang gajinya sedikit. Perhatian terhadap pesertaa didiknya sengaja tidak dioptimalkan, misalnya memberi soal atau mencatat, kemudian ditinggal keruang guru untuk ngopi dan merokok bersama guru lainya, masuk kelas dilambat-lambatkan. Kalau kebiasaan itu terus berlanjut, peserta didik akan jenuh dan mulai malas untuk belajar. Akhirnya mereka keluar kelas untuk bermain atau ke kantin. Guru hebat tidak seperti itu, seharusnya mereka ikhlas menyediakan waktunya untuk membantu peserta didik. Tanpa atau ada pengawasan dari pimpinan, tentunya kita harus berupaya untuk melaksanakan tugas dengan baik. Tentunya pemberian contoh yang baik dan ketegasan dari pimpinan juga sangat penting.

Kedua, guru memiliki kelembutan dan kasih sayang  dalam ketegasan. Kadang kala kita mendapati peserta didik yang sulit untuk mematuhi   tatatertib sekolah, misalnya tidak berpakaian rapi, dan tidak lengkap, menggedor pintu kelas saat melewati kelas lain ataupun izin ke wc kemudian tidak kembali lagi. Apalagi di kelas yang gurunya cuek, walaupun peserta didiknya ramai dan gaduh ,dibiarkan saja.

Kalau ini dibiarkan berlarut –larut tentu akan mengganggu kelas yang lain. Belajarlah untuk bersikap tegas dan lembut.. Jika sering tidak tegas soal peraturan, maka siswa akan merasa menang dan menguasai kelas. Guru juga jangan cuma bisa tegas dan sering marah sedangkan memberi pujian dan penghargaan saja sulit. Jadikan tegas dan bersahabat sebagai motto kita sebagai guru.

Silakan beri komentar.