Besar, Peluang Kota Lama Diakui UNESCO

558
POTENSI BESAR : Ketua BP2KL Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu menunjukkan potensi Kota Lama kepada Kepala Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Arif Rahman, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
POTENSI BESAR : Ketua BP2KL Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu menunjukkan potensi Kota Lama kepada Kepala Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Arif Rahman, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Peluang Kawasan Kota Lama Semarang untuk masuk dalam warisan budaya dunia UNESCO di 2020 cukup besar. Peluang tersebut semakin besar karena Kota Tua Jakarta dan Sawahlunto didrop dalam daftar sementara (tentative list), lantaran kurang lengkapnya dokumentasi dosier sejarahnya.

Kepala Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Arif Rahman mengatakan peluang Kota Lama untuk menjadi kota warisan budaya dunia sangat besar dan terbuka lebar. Apalagi Kota Lama Semarang punya karakteristik yang berbeda dari segi pengembangan yang tentunya lain dari pada kota tua lainnya. “Kota tua sendiri memang ada banyak, namun UNESCO melihat jika budayanya kurang dan lebih ke arah ekonomi,” katanya pada Workshop Strategi Pengurangan Resiko Bencana (PRB) Kota Lama Semarang, Senin (26/2) di Gedung Outdetrap.

Menurut Arif, Kota Lama Semarang sudah pada jalur yang benar. Sebab, kebudayaan dan perekonomiannya disandingkan dan merupakan pembeda dengan kota tua lainnya. Workshop sendiri menjadi contoh nyata jika pembangunan Kota Lama Semarang telah melibatkan berbagai elemen. Yakni peneliti, akademisi, pemerintah dan sejarawan. “Ada kota tua yang dibangun tanpa dilakukan penelitian dulu, dan akhirnya keliru, akibatnya kemacetan terjadi dan ledakan jumlah penduduk tidak bisa dikendalikan,” jelasnya.

Terpisah Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu menerangkan saat ini sedang disusun dossier. Termasuk lembaran dokumen dosier yang didapat dari Museum Arsip Nasional Belanda dan Perancis. “September ini selesai, November Final. Sehingga diupayakan 2019 bisa masuk dalam tentative list UNESCO. Pengumumannya pada 2020 mendatang,” tuturnya.

Sebagai daerah yang dijuluki ‘Little Netherland’, Kota Lama Semarang sebelumnya menjadi daerah langganan banjir dan air rob. Saat ini Pemkot Semarang mulai menata sistem drainase dan kabel. Apalagi program ini disokong oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dengan gelontoran dana Rp 156 miliar. “Pengurangan risiko bencana bagi bangunan sejarah Kota Lama sudah kita mitigasi. Dana dari PUPR itu digunakan untuk membangun sistem drainase, penanaman kabel bawah tanah (ducting), street interior, dan pedestrian,” katanya. (den/ric)