Keluarga Locu Diberi Petunjuk Dewa Obat

Diah Putri, Perawat Rupang Dewa di Tay Kak Sie

503
PEKERJAAN ISTIMEWA : Diah Putri, penuh ketulusan dan keseriusan menjadi abdi untuk merawat rupang dewa di Klenteng Tay Kak Sie Semarang. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PEKERJAAN ISTIMEWA : Diah Putri, penuh ketulusan dan keseriusan menjadi abdi untuk merawat rupang dewa di Klenteng Tay Kak Sie Semarang. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Bagi Diah Putri, 40, merawat rupang dewa adalah pekerjaan istimewa. Padahal, bukan hal mudah untuk menjadi seorang locu. Ketulusan dan keseriusan menjadi abdi, merupakan modal utama untuk ngopeni rupang dewa yang ada di Klenteng Tay Kak Sie Semarang.

ADENNYAR WYCAKSONO

YA, dari sekitar 30-an rupang dewa di Tay Kak Sie, ia sempat menjadi locu Dewa Pendidikan sejak setahun lalu. Agar bisa menjadi locu, harus mendapatkan persetujuan dari dewa yang ingin dirawat.

“Sebelumnya, tentu didoakan dan melempar pwa pwee. Dari 5 kali melempar misalnya, berapa kali pwa pwee ini menghasilkan nilai yang positif atau disetujui sang dewa,” tutur Diah.

Untuk menjadi locu, ada beberapa calon. Dari situlah akan diambil nilai terbaik dan akhirnya menjadi seorang locu. Tugas utama locu: merawat rupang dewa. Motivasinya menjadi locu, murni ingin mengabdi kepada dewa. “Saya murni mengabdi kepada dewa. Dari situlah, punya kebanggan tersendiri.”

Kata Diah, tidak ada syarat khusus untuk menjadi seorang locu. Hanya niat tulus untuk mengabdi; dan—tentu saja– disetujui dewa yang ingin dirawatnya, melalui lemparan pwa pwee.

Tugas locu, ucap Diah, setiap penanggalan 1 dan 15 Imlek, ia wajib memberikan persembahan kepada sang dewa. Biasanya, berupa buah dengan jumlah ganjil. “Misalnya saja, warna buah harus berbeda, kalau jumlahnya lima buah, ya harus lima semuanya. Maksudnya, adalah dari unsur yang berbeda yang ada di dunia.”