Makanan Tradisional, Inspirasi Siswa Cinta Budaya

648
Oleh: Sri Kustanti SPd
Oleh: Sri Kustanti SPd

RADARSEMARANG.COM – PROVINSI Jawa Tengah yang terdiri atas 35 kabupaten dan kota banyak ditemui kuliner khas. Hampir di setiap daerah memiliki kuliner khas, berupa masakan, minuman, ataupun jajanan. Ada yang terbuat dari beras, ketan, kelapa, pisang, umbi-umbian, dan lain-lain.

Makanan tradisional merupakan makanan yang paling banyak mempunyai ciri khas di mana orang tersebut dilahirkan dan dibesarkan (Winarno, 1994). Dengan lebih spesifik, melekatnya tradisi-tradisi tersebut bisa ditandai dengan makanan tradisional yang dimakan oleh golongan etnik dalam daerah tertentu.

Makanan tradisional umumnya lebih banyak dikonsumsi oleh masyarakat yang berasal dari daerah tersebut, dan dikenalkan kepada masyarakat atau pendatang. Makanan tradisional diolah menurut resep yang diwariskan secara turun-temurun. Umumnya resep dalam makanan tradisional yang dibua toleh penduduk asli tersebut merupakan hasil resep turun-temurun dan biasanya lebih banyak diturunkan dalam keluarga. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar cita rasa khas makanan tersebut tetap bisa terjaga.

Makanan tradisional dibuat dari bahan-bahan lokal dan dibuat menurut keinginan sendiri, juga menurut tradisi setempat. Bahan-bahan untuk membuat makanan tradisional mudah didapat karena bahan-bahan dasarnya mudah dibeli dipasar yang menjual makanan tradisional tersebut, dan biasanya bisa diselarasakan menurut keinginan. Sehingga ada makanan tradisional yang rasanya pedas, manis, dan lain-lain.

Contoh salah satu makanan tradisional, yakni thiwul dikenal sebagai jajanan pasar yang merakyat. Makanan ini mudah ditemukan. Bila menurut sejarahnya, asal mula thiwul merupakan makanan pokok masyarakat pada zaman dahulu, ketika penjajahan Jepang dan sekitar tahun 1960-an. Thiwul dibuat dari ubi kayu yang dikeringkan (gaplek) dan dijadikan makanan pokok untuk menggantikan beras yang pada saat itu harganya sangat mahal, sehingga tidak setiap orang bisa membelinya.