ATM Beras Bagi Warga Miskin

395
PRAKTIS: Warga dhuafa dibantu pengurus IKAMABA saat mengambil beras di Mesin ATM Beras yang terpasang di Masjid Raya Baiturrahman Semarang, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PRAKTIS: Warga dhuafa dibantu pengurus IKAMABA saat mengambil beras di Mesin ATM Beras yang terpasang di Masjid Raya Baiturrahman Semarang, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG Ada yang berbeda di Masjid Raya Baiturrahman Simpang Lima Semarang usai salat Jumat (19/1) kemarin. Perbedaan tersebut lantaran adanya mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang dapat mengeluarkan beras khusus untuk warga miskin. Mesin ATM beras berkapasitas 240 kg itu diletakkan di Sekretariat Ikatan Remaja Masjid Raya Baiturrahman (IKAMABA) Semarang. Dilihat dari desain bentuknya, sangat mirip dengan mesin ATM uang dan Vending Machine.

Di bagian layar tertulis ATM Beras Ikamaba Beras Gratis Khusus Untuk Dhuafa. Cara kerjanya cukup dengan menyentuhkan kartu ke mesin dan akan keluar beras dari bagian bawahnya tanpa perlu menekan nomor pin.

Ketua Ikamaba, Asrul Sani, mengatakan, mesin tersebut buatan alumni ITB angkatan 80-an bernama Budi Aji. Sementara alat yang berada di Masjid Raya Baiturrahman merupakan hibah Ir Teguh Trianung yang juga alumni ITB asal Semarang.

“Dihibahkan di Masjid Raya Baiturrahman Semarang. Ini untuk pertama kalinya di Jateng, diresmikan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, Minggu (14/1) lalu,” ungkap Asrul di sela kegiatan, kemarin.

Mesin tersebut dapat disetting sesuai dengan hasil klarifikasi dari tim terhadap dhuafa atau calon penerima beras gratis. Mesin terhubung dengan jaringan nirkabel yang akan memberikan informasi kepada admin setelah kartu ditap atau ditempelkan.”Bisa tentukan penerima kartu nomor sekian ini butuh beras banyak atau sedikit. Misalnya, janda tunggal kan kebutuhannya sedikit, itu bisa diatur,” jelasnya.

Untuk awal penggunaan ini, panitia memberikan kartu ATM beras kepada kaum dhuafa di sekitar masjid dan pekerja di masjid sebanyak 20 kartu. Tidak sekadar memberikan beras, program ini juga diikuti dengan kegiatan masjid bagi penerimanya.

“Jadwal diatur sesuai pembinaan di Baiturrahman. Misalnya, Jumat ada kajian wanita di sini, ibu-ibu ambil beras setelah kajian. Ahad pekan pertama ada gerakan salat subuh berjamaah, penerima manfaat bisa ambil setelah salat,” bebernya.

Diharapkan jumlah penerima akan terus bertambah, begitupun sumbangan beras dari donatur. Untuk awal kegiatan, beras disumbang oleh Wali Kota Semarang sebanyak 2 ton. “Kita ada tim verifikasi, jadi yang mendapatkan bisa tepat sasaran dan mau mendapatkan pembinaan,” katanya.

Alat seharga sekitar Rp 29,5 juta itu memang bukan yang pertama kali di Indonesia. Namun di Jateng, Semarang menjadi kota yang pertama. Wali kota Semarang Hendrar Prihadi mengapresiasi dan berharap bisa berkolaborasi secara kontinyu. “Tentu harapan kami ada sebuah kolaborasi tercipta, sehingga yang bergerak untuk Kota Semarang bukan hanya pemerintah saja. Masyarakat yang inisiasi kemudian Pemkot Semarang akan mendukung penuh,” ujar Hendi. (tsa/aro)

Silakan beri komentar.