Rudenim Overload, 51 Imigran Dipindah

403

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Sebanyak 51 imigran gelap yang menghuni Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Semarang segera dipindahkan ke Jakarta. Hal tersebut lantaran Rudenim sudah overload. Rata-rata imigran gelap tersebut telah menempati Rudenim lebih dari tiga tahun.

Kepala Divisi Keimigrasian Kemenkumham Jateng, Ramli HS membeberkan bahwa imigran gelap sebanyak itu, kebanyakan berasal dari Afganistan. Ia menuturkan, imigran gelap itu sebelumnya sempat tinggal di beberapa lokasi termasuk kawasan Puncak Bogor dan Serpong. Namun, oleh ulah orang tidak bertanggung jawab mereka di mobilisasi ke Semarang.

“Kami sudah meyurati Direktur Penindakan dan Pengawasan Kemenkumham untuk mengembalikan mereka ke Jakarta lagi,” ungkapnya usai acara refleksi akhir tahun 2017 di Kanwil Kemenkumham Jateng, Jalan Dr Cipto Semarang, Rabu (27/12).

Ramli menjelaskan, pemindahan imigran gelap itu sebagai upaya untuk mengurangi jumlah penghuni Rudenim yang kini telah melebihi kapasitas. Rudenim Semarang hanya memiliki kapasitas kamar 60 unit, namun saat ini dihuni 137 orang.

Pihaknya akan membuat pengaturan ulang terkait alur pengiriman imigran, untuk membatasi gerak mereka sehingga tidak seenaknya mencari daerah sendiri. Di sisi lain, penampungan imigran menurutnya harus dipusatkan pada satu tempat.

“Rudenim sendiri kan sebetulnya hanya digunakan untuk menampung WNA yang sedang menunggu proses pemulangan ke negara asal,” tuturnya.

Ramli mencontohnkan imigran yang dapat tinggal di Rudenim diantaranya adalah WNA yang sudah menjalani masa hukuman penjara. Akan tetapi dokumen-dokumennya belum lengkap sehingga harus menunggu.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Divisi Pemasyarakatan (Kadivpas) Kemenkumham Jateng, Djoni Priyatno mengatakan bahwa pihaknya tengah mengebut pembangunan lapas high risk di Lapas Kelas I B Batu dan Lapas Pasir Putih, Pulau Nusakambangan, Cilacap. Pembangunan dikerjakan pada kapasitas ruang tahanan yang diperkecil untuk menampung para narapidana gembong narkoba dan kasus terorisme.

“Kamarnya akan diperkecil. Di sana ditempatkan 120 orang napi narkoba dan ada lagi 85 kamar khusus teroris,” ungkap Djoni.

Sementara, terkait proses pemindahan para narapidana pihaknya masih menunggu aba-aba dari pemerintah pusat. Pasalnya untuk tahapan assessment tiap narapidana, jelas Djoni, nantinya terbagi dalam beberapa sesi. (tsa/zal)