Ingin Jateng jadi Provinsi Literasi

Tukijo, Pelopor Gerakan Literasi Menulis Bagi Guru

318
ISTIMEWA
ISTIMEWA

Tingginya tuntutan guru untuk bisa menulis literasi membuat Tukijo tergerak menjadi fasilitator sekaligus memotivasi para guru agar bisa menulis. Pasalnya menulis literasi saat ini menjadi salah satu cara yang digenjot pemerintah untuk mencerdaskan anak bangsa. Selain itu, menulis literasi menjadi salah satu syarat para guru untuk bisa naik pangkat atau golongan.

Sayangnya, gerakan literasi nasional yang digalakkan pemerintah menemui berbagai kendala. Diantaranya guru belum terbiasa untuk menulis artikel ilmiah, kurang percaya diri, dan kurang inspirasi untuk membuat sebuah ide terkait literasi ilmiah. Hal tersebut akhirnya membuat pria kelahiran Cilacap 4 Mei 1980 ini membuat gerakan literasi secara mandiri. Salah satunya dengan menggandeng Jawa Pos Radar Semarang.

“Karena guru juga punya tuntutan yang besar untuk menulis literasi. Sayangnya saat ini yang banyak dituntut malah siswa, padahal guru juga punya kewajiban menulis. Banyak dari mereka tidak punya pegangan, akhirnya saya mencoba memberikan fasilitas dengan memberikan pelatihan,” katanya.

Gerakan literasi tersebut ia lakukan tanpa membawa nama sekolah ataupun instansi lainnya. Padahal ia saat ini menjabat sebagai Ketua Musyarawah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa di Kota Semarang. Ia melakukannya secara independen guna memacu para guru untuk berkarya dan mengembangkan dari.

“Selain sebagai tuntutan, tulisan atau karya sifatnya abadi dan pasti dikenang. Dengan artikel ilmiah yang dibuat, nantinya bisa dikembangkan lagi menjadi buku dan terus memacu agar bisa lebih produktif menghasilkan karya,” beber suami dari Luluk Amalia ini.

Niatan awal yang bisa dianggap mulia tersebut bukan tidak menemui ganjalan. Diantaranya meyakinkan para guru agar mau menulis, dan memastikan literasi yang dibuat guru bisa dimuat di media massa. Tukijo pun langsung terjun untuk memberikan pengarahan dan pelatihan kepada para guru secara langusng. “Harapan saya kalau sudah bisa sendiri, mereka bisa terus berinovasi, tulisan yang dibuat juga bisa bermanfaat bagi orang banyak. Disinilah yang membuat saya puas, apalagi ada guru yang bisa membuat buku dari hasil tulisannya,” bebernya.