Mencicipi Kuliner Tradisional di Bawah Kesejukan Bambu

Mengunjungi Pasar Papringan Ngadiprono Temanggung

537
RAMAI : Pedagang dikerubuti pembeli di Pasar Papringan Dusun Ngadiprono Desa Ngadimulyo Kecamatan Kedu, Temanggung. (Lis Retno Wibowo/Radar Kedu)
RAMAI : Pedagang dikerubuti pembeli di Pasar Papringan Dusun Ngadiprono Desa Ngadimulyo Kecamatan Kedu, Temanggung. (Lis Retno Wibowo/Radar Kedu)

Setiap Minggu Pon dan Minggu Wage, Dusun Ngadiprono Desa Ngadimulyo Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung ramai dikunjugi warga luar daerah. Mereka hendak menikmati suasana Pasar Papringan di dusun tersebut.

MENIKMATI Minggu pagi di Pasar Papringan, pengunjung akan disuguhi nuansa pasar yang berbeda. Sesuai namanya, “papringan” (bahasa Jawa) artinya kebun bambu, pasar berada di bawah rerimbungan bambu seluasa sekitar 1.500 meter persegi.

Pasar Papringan menjajakan makanan tradisional yang kini sudah banyak dilupakan orang. Juga menyuguhkan aneka permainan tradisional. Alat pembayarannya juga bukan uang melainkan potongan bambu. Unik dan menarik.

Tak heran bila setiap Minggu Pon dan Minggu Wage, ratusan kendaraan berplat luar kota berbondong-bondong ke pasar dadakan di Dusun Ngadiprono Desa Ngadimulyo Kecamatan Kedu tersebut.

Sebelum melakukan transaksi, pengunjung harus menukarkan uang dengan potongan bambu sebagai alat pembelian. Satu potong bambu ditukar dengan uang Rp 2 ribu. Pengunjung dapat menikmati kuliner gablok pecel, nasi bakar, nasi merah, nasi jagung, nasi rames ndeso, lontong mangut, bubur kampung maupun gudeg serta soto lesah.

Bisa juga mencicipi kudapan ndeso, seperti ndas borok, aneka keripik, grontol jagung, aneka makanan godog, gorengan. Minumannya ada dawet anget, wedang ronde, wedang tape, kopi tubruk, kolak pisang, bubur kacang ijo, susu kedelai.

Tempat pedagang menjajakan makanannya ditata sedemikian rupa di antara pokok-pokok bambu satu dengan lainnya. Sehingga terkesan rapi. Pengunjung Pasar Papringan terus meningkat dari satu penyelenggaraan ke penyelenggaraan berikutnya. Bahkan, dibanding saat kali pertama pasar itu dibuka oleh Bupati Temanggung Bambang Sukarno, sekitar enam bulan lalu.

Manajer Proyek Pasar Papringan, Fransisca Callista mengaku tidak melakukan promosi secara khusus. Dia hanya mengunggah foto-foto di media sosial. Efeknya sungguh luar biasa. Pengunjung tidak hanya dari wilayah Temanggung dan sekitarnya. Tapi dari Semarang, Jogjakarta, Kendal, Purwokerto bahkan ada yang dari luar Jawa.

Callista, yang merupakan Pengurus Komunitas Spedagi (Sepeda Pagi) yang selama ini melakukan pendampingan kepada warga Ngadiprono tersebut mengatakan, banyaknya pengunjung juga karena gethok tular alias dari mulut ke mulut.