Dorong Perbaikan Sisi Manajerial UMKM

815
BUTUH PENDAMPINGAN : Pekerja memotong buah Carica di sentra pengolahan Carica di Kabupaten Wonosobo. Para pengusaha kecil dan mikro saat ini masih tertinggal dalam transisi pemasaran offline ke online. (ANNISA NATASSIA LARASATI/JAWAPOS RADAR SEMARANG)
BUTUH PENDAMPINGAN : Pekerja memotong buah Carica di sentra pengolahan Carica di Kabupaten Wonosobo. Para pengusaha kecil dan mikro saat ini masih tertinggal dalam transisi pemasaran offline ke online. (ANNISA NATASSIA LARASATI/JAWAPOS RADAR SEMARANG)

TEMANGGUNG – Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Tengah terus mendorong peningkatan kualitas usaha mikro, kecil dan menengah. Khususnya dari sisi manajerial yang dinilai masih perlu banyak pendampingan.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Tengah, Ema Rahmawati mengatakan, pihaknya telah memberikan berbagai pelatihan bagi para pelaku UMKM. Mulai dari pelatihan vokasi yang bertujuan meningkatkan keterampilan, pelatihan manajerial terkait pemasaran dan tata keuangan, hingga pelatihan kompetensi. “Dari semua pelatihan tersebut, sejauh ini pelatihan keterampilan yang paling banyak diikuti,” ujarnya disela-sela sarasehan Gayeng Bareng Gubernur Jawa Tengah bersama blogger/vlogger dan pelaku UKM Kabupaten Temanggung, Jumat (17/11).

Namun demikian, ke depan, pelatihan dan pendampingan dari sisi manajerial akan lebih banyak ditekankan. Sisi manajerial ini dinilai perlu ditingkatkan, karena berkaitan dengan daya saing produk di pasaran. “Kalau untuk produk boleh dibilang produk-produk cukup baik, hanya saja dari segi pengemasan dan pemasaran yang masih kurang. Masih banyak UMKM yang belum bisa membuat company profile, maupun memasarkan produk secara online,” ujarnya.

Padahal lanjutnya, saat ini eranya berjualan yang tidak lagi secara konvensional. Market place maupun sosial media banyak digunakan untuk memasarkan produk. Dengan pengemasan dan pemanfaatan sosial media, area pemasaran akan lebih luas.

Terkait hal ini, pihaknya pun berupaya memfasilitasi para pelaku UMKM dengan membangun market place yang diberi nama Sadewa Market. Antusiasme pelaku maupun masyarakat akan market place ini dinilai cukup baik. Sayangnya, masih banyak pelaku UMKM yang belum memahami sistem pemasaran tersebut. “Oleh karena itu, tahun depan akan kami seimbangkan, antara pelatihan keterampilan dan manajerial,” katanya.

Salah satu pengusaha Carica di Wonosobo, Trisila Juwantara mengakui bahwa para pelaku usaha mikro dan kecil masih tertinggal terkait transisi pemasaran offline ke online. “Kita punya domain dan website tetapi tidak dikelola dengan baik karena keterbatasan ,” ujarnya.

Di bisnis Carica sendiri lanjutnya, saat ini pengembangannya beralih dari generasi tua ke generasi muda. Para generasi muda mulai turun ke pemasaran online, tetapi tidak semua UKM punya sumber daya yang sama. “Sebagian belum berpikir untuk memasarkan secara online. Pelatihan juga ikut pelatihan tetapi setelah itu tidak bisa mengaplikasikannya, itu dinamika UMKM,” terangnya. (cha/ric)