Dampak Terminal Baru Bandara Ahmad Yani

Oleh: Djoko Setijowarno

781

TERMINAL penumpang Bandara Internasional Ahmad Yani direncananakan Maret 2018 sebagian sudah dapat difungsikan. Lokasi terminal penumpang yang baru berada di sisi utara landas pacu (runway) yang ada sekarang. Runway yang sudah tersedia panjang 2.560 meter dan lebar 45 meter. Luas terminal bertambah, semula 6.708 meter persegi menjadi 58.652 meter persegi. Luas apron yang semula 29.032 meter persegi nantinya menjadi 72.522 meter persegi.

Demkian pula untuk parkir kendaraan bermotor disediakan untuk 1.200 unit dengan luas 43.633 meter persegi. Sekarang hanya 8.805 meter persegi untuk 350 kendaraan. Terminal baru akan dilengkapi dengan avio bidge (3 unit), 6 elevator (6 unit), travellator (1 unit) dan escalator (8 unit). Sekarang sudah terbangun adalah apron dan landas hubung (taxiway). Di dalam area bandara setidaknya ada titik konflik yang harus menjadi perharian.

Di dalam kawasan bandara terdapat konflik pergerakan yang harus ditangani, seperti (1) depan terminal bandara (dropping-pickup, halte), (2) dari gedung parkir, terminal bandara dan kargo, (3) ke perkantoran, (4) yang putar balik.

Sementara di luar kawasan bandara adalah sepanjang jalan akses menuju Bandara Ahmad Yani setidaknya dikelompokkan dalam empat titik konflik, yaitu pergerakan dengan kendaraan masuk keluar (1) RM Tanjung Laut, (2) RM Kampung Laut, Maerokoco dan Sekolah Krista Mitra, (3) Kawasan Marina dan aktivitas parkir perkantoran dan komersial di sisi jalan akses, dan (4) Kawasan Puri Anjasmoro, jika ada event besar, terdapat antrian kendaraan masuk Kawasan PRPP.

Permasalahan saat ini: pertama, terdapat titik tundaan perjalanan, seperti persimpangan (simpang tak bersinyal: konflik pergerakan; simpang bersinyal: lamanya fase lampu lalu lintas APILL), perlintasan sebidang KA, gangguan samping (aktivitas pasar, area komersial, Sekolah Kristra Mitra, Kawasan PRPP). Terdapat pertemuan ruas jalan di simpang baik bersignal maupun tidak, dan adanya aktivitas pusat kegiatan menyebabkan gangguan samping; perlintasan sebidang KA, di beberapa titik menyebabkan tundaan perjalanan cukup signifikan.

Kedua, bercampurnya pergerakan kendaraan besar dan kecil (mix-traffic). Keberadaan jalan arteri primer yang menjadi jalur angkutan barang, dan menjadi salah satu akses ke bandara. Menyebabkan tercampurnya pergerakan kendaraan besar dan kecil (mix-traffic) dapat menimbulkan ketakutan/keengganan, mencari jalur alterantif, dan membebani jalan lokal/lingkungan.

Ketiga, tingginya volume lalu lintas di jalan akses menuju bandara (menjadi satu dengan akses ke kawasan perkotaan). Bercampurnya pergerakan ke kawasan perkotaan Semarang dengan pergerakan ke bandara menyebabkan tingginya volume pergerakan di sekitar kawasan pengembangan.

Keempat, daya dukung jalan masih rendah (perkerasan jalan rusak, penyempitan badan jalan/bottleneck). Di beberapa titik didapatkan daya dukung jalan masih rendah, baik dari sisi kapasitas maupun perkerasan jalan.

Pengaturan sirkulasi kendaraan di luar kawasan bandara untuk mengurangi beban perjalanan pada jaringan jalan yang terkoneksi ke bandara dapat mengalihkan mobilisasi masyarakat dengan menggunakan angkutan umum. Caranya, mendorong peningkatan layanan angkutan perkotaan dan layanan BRT Trans Semarang dan Trans Jateng masuk bandara.