Kembangkan Pertanian Hidroponik dan Akuaponik

Solusi Bercocok Tanam di Lahan Terbatas

1700
RAMAH LINGKUNGAN: Kabul menunjukkan jenis tanaman hidroponik di halaman kantor Kelurahan Miroto, Kecamatan Semarang Tengah (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).
RAMAH LINGKUNGAN: Kabul menunjukkan jenis tanaman hidroponik di halaman kantor Kelurahan Miroto, Kecamatan Semarang Tengah (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Ingin bercocok tanam tapi tidak punya lahan pertanian? Jangan khawatir, masalah ini bisa diakali. Saat ini, bercocok tanam di halaman rumah yang sempit pun bisa dilakukan.

SEBAGAI masyarakat kota, mungkin Anda familiar dengan istilah urban farming? Ya, urban farming atau pertanian kota adalah salah satu gagasan untuk memodifikasi pertanian konvensional ke pertanian perkotaan. Konsep sederhananya adalah menyulap lahan perkotaan yang terbatas seperti area tinggal (balkon, atap, atau lahan pekarangan yang ada), pinggir jalan, bahkan tepi sungai menjadi area pertanian mini yang produktif. Dalam urban farming, semua proses praktik budidaya, penanaman dari bibit hingga siap panen, serta distribusi hasil seluruhnya dilakukan di dalam kota. Menarik bukan?

Ada beragam sistem bercocok tanam di lahan terbatas. Mulai akuaponik, hidroponik, hingga di dalam pot dan polybag. Untuk sistem hidroponik, seperti yang dilakukan warga Kampung Miroto, tepatnya di Jalan Seteran Barat, Kelurahan Miroto, Kecamatan Semarang Tengah. Bahkan kampung itu didaulat sebagai salah satu pilot project kampung tematik yang diluncurkan Pemkot Semarang pada akhir 2016 silam.

Ada berbagai jenis tanaman yang dibudidayakan dengan sistem hidroponik. Di antaranya, lada, sawi sendok, kangkung, bayam dan bunga Laveder. Selain itu, warga juga bercoock tanam dengan media tanah di dalam pot. Di antaranya, cabai, lada, sawi jepang, sawi ijo, tanaman hias, tomat, dan buah-buahan seperti sawo, jeruk dan mangga. Juga tanaman bunga, dengan jenis tanaman wajibnya adalah Pucuk Merah dan Bunga Melati.

“Untuk tanaman hidroponik dari awal bibit sampai gede lamanya sekitar 40 hari bisa dipanen. Tapi itu kalau dilakukan perawatan dengan baik, dipupuk, dikontrol PH, dan tentunya perbandingan air dan pupuk sudah sesuai,” jelas Kasi Pembangunan Kelurahan Miroto, Kabul, saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di kantornya, Jumat (13/10kemarin.

Untuk perawatan tanaman hidroponik, dikatakan Kabul, air dicampur terlebih dahulu dengan pupuk, kemudian melalui media paralon, airnya akan mengalir sendiri memutar (rotasi) melalui bantuan listrik.

Ia mengatakan, kalau kelurahan tersebut mulai dijadikan lahan hijau sekitar 2011 lalu. Namun demikian, awalnya memang sudah banyak tanaman. Hanya saja, melalui media pot di seputar kelurahan. Kemudian 2015 lalu, pihaknya semakin greget menjadikan kelurahannya agar bisa semakin asri dan hijau setelah ada bantuan dari Dinas Pertanian berupa paralon sebagai media menanam hidroponik. “Kita sudah berkali-kali panen. Kita lakukan perawatan rutin tiap hari, pupuk dan air juga harus dikontrol terus,”ujarnya.

Konsep hidroponik tersebut, lanjut Kabul, di kelurahannya memang hanya diperuntukkan untuk pembesaran saja, karena bibit yang ditanam memang dibeli dari kecil, bukan pembibitan sendiri. Beberapa tanaman lain juga ada yang menggunakan media sterofoam. Namun sebagian tanaman hasil pembibitan sendiri, seperti lada, tomat, cabai dan bunga-bungaan.

“Kalau pas panen, kemudian ada yang butuh, kami persilakan tinggal ambil, karena ndak untuk dijual hasil tanaman hidroponiknya, melainkan cuma dikonsumsi sendiri. Biasanya tanaman sawi sendok, kangkung, dan lada yang sering buat lalapan,”sebutnya.

Dengan konsep budidaya tanaman ini, diakuinya, banyak manfaat yang diperoleh. Di antaranya, permukiman tidak semakin panas, hasil tanaman bisa dikonsumsi sendiri bahkan dijual, serta prosesnya simpel.

“Sayuran maupun buah yang kami tanam, pupuknya juga alami, yakni pupuk kandang dan kompos. Pupuk kompos dibuat sendiri dengan memproses daun-daun kering yang kami kumpulkan,” bebernya.

Lurah Miroto, Sri Ananingsih, menambahkan, budidaya tanaman dengan sistem hidroponik ini sebagai bentuk cinta alam dan menjaga lingkungan tetap asri meski berada di tengah kota. “Ini dulu banyak tanaman hidroponiknya, sekarang sudah berkurang, karena sudah dipanen dan dikonsumsi,”katanya.

Sistem bercocok tanam di lahan terbatas  lainnya adalah akuaponik. Ini seperti yang dilakukan warga Kelurahan Kandri, Gununpati. Sistem akuaponik sendiri berbeda dengan hidroponik. Perbedaan yang mencolok terletak pada penggunaan pupuk non kimia dan pemeliharaan ikan di media tanam airnya atau dinamakan aquapuntur. Kotoran ikan akan dimanfaatkan sebagai pupuk organik bagi pertumbuhan tanaman.

“Ikan-ikan yang mengeluarkan kotoran, akan diputarkan ke atas menggunakan sistem sirkulasi air. Sehingga tanaman yang berada di atas, memperoleh nutrisi dari kotoran ikan tersebut,” jelas penggiat sistem tanam akuaponik, Joko Mulyono kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Mengenai sayuran yang bisa ditanam, ada bermacam-macam, meliputi sawi, bayam, seledri, selada, kucai, kangkung dan sebagainya. Sedangkan ikan yang dipelihara sebagai sumber pupuk, dalam kolam kecil berukuran satu meter persegi dapat diisi jumlah besar mencapai 100 ekor ikan. Hal ini karena penggunaan sistem sirkulasi air, membuat pasokan oksigen tinggi. Selama ini sistem akuaponik digalakkan di RW 04 Kelurahan Kandri.

Hidup di kawasan padat penduduk, tak berarti menyurutkan hobi berkebun. Sisa lahan maupun berbagai media lain dapat dimanfaatkan sebagai tempat bercocok tanam.  Seperti yang dilakukan Sujoto. Pensiunan Polri ini mengaku hobi berkebun sejak dulu, sayang terkendala kesibukan pekerjaan. Setelah memasuki masa pensiun, barulah ia bisa fokus menekuni hobi tersebut. Terlihat dari rumahnya yang dipenuhi oleh berbagai jenis tanaman.

Mulai dari secuil lahan sebelum memasuki pagar rumah. Alih-alih menutup dengan semen, ia menanami lahan tersebut dengan aneka sayuran, berganti-ganti. Mulai dari terong, tomat, cabai, pernah juga kacang tanah.

Begitu juga dengan sisa lahan di samping rumah yang ia penuhi dengan kangkung dan pare. Sedangkan sisanya, tanaman lain yang tidak kebagian lahan, seperti lemon, jeruk peras dan anggur ditanam dalam pot.

“Berkebun ini kegiatan yang menyenangkan dan menyehatkan. Asyiknya lagi, kalau hasilnya sudah nongol, warna-warni, seger lihatnya, kadang bikin gemes, apalagi metik langsung baru dikonsumsi. Lebih hemat juga,”ujarnya.

Sejauh ini, untuk metode penanaman, ia mengaku belajar dari buku dan hasil ngobrol dengan sesama penghobi berkebun. Beberapa kendala juga dihadapi, mulai dari terkena hama, salah perlakuan, dan beberapa hal lainnya.

“Daun habis dimakan belalang atau ada ulat, kurang pupuk. Tapi ya tidak apa-apa, ulangi lagi, baca-baca lagi, tanya-tanya lagi. Termasuk bagaimana perlakukan tanaman buah-buahan di pot juga. Pupuk juga sebagian beli, sebagian lain saya pakai pupuk sampah rumah tangga,”ujarnya.(jks/dna/aro)