Dimulai dari Sekolah

163
Oleh: Susena
Oleh: Susena

SELURUH komponen masyarakat dari otoritas tertinggi sebagai pengambil kebijakan sampai pada tingkat terbawah, harus  mempunyai kesadaran (consciousness) bahwa dirinya adalah bagian dari keseluruhan (wholeness) untuk menciptakan sense of ownerships yang merupakan  pilar utama  dalam membangun negara ini.

Memperhatikan sederet kasus yang menyita perhatian publik, mulai dari banyaknya pejabat negara yang terjaring OTT terduga pelaku korupsi, penyalahgunaan obat dan narkotika, maraknya kekerasan, tingginya angka kecelakaan dan masalah sosial lainnya seakan mengoyak asa kita.

Rendahnya peradaban dan ketamakan menjadipenyebab terus mengguritanya musuh utama di negara kita yaitu korupsi. Selain itu minimnya keteladanan, masih lemahnya penegakan hukum dan sedemikian derasnya arus globalisasi dimana semua  inginnya serba instan, cepat dan mudah tanpa mau melalui sebuah proses semakin memperparah kondisi. Tata kelola keuangan negara yang sudah dibangun banyak diterobos oleh oknum pejabat yang seharusnya menjadi panutan.

Beban negara ini begitu berat, butuh penanganan secara serius dan peran nyata semua pihak. Sebagian masyarakat masih mengutamakan ego masing-masing sehingga melupakan nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan. Peredaran PCC menyadarkan kita semua bahwa peredaran obat ilegal tersebut bukan hanya terkait dengan kesehatan dan keselamatan jiwa tetapi juga menyangkut ketahanan bangsa. Peristiwa tersebut seharusnya menjadi momentum bangsa ini untuk bangkit  bergerak bersama mengatasi masalah secara komprehensif baik dari sisi penindakan dan pencegahannya secara intensif untuk menghindarkan kehancuran generasi muda yang memang rentan terhadap pengaruh penyalahgunaan obat dan narkotika.

Selain itu, masih sering terjadinya kecelakaan lalu lintas juga menjadi keprihatinan kita bersama. Kejadian tersebut sebagian besar diawali dengan pelanggaran tata tertib berlalu lintas. Jika kita perhatikan beberapa negara dengan  tata kelola kota yang baik, kepemimpinan yang kuat, komitmen pada penegakan disiplin, dan pengawasan secara berkelanjutan menjadikan budaya antri, dan tertib berlalu lintas,  telah tumbuh menjadi city culture.

Kita orang Indonesia yang belum sepenuhnya terbiasa antri dan disiplin berlalu lintas, begitu masuk negara tersebut kita tiba-tiba berubah menyesuaikan dengan kultur yang ada. Inilah makna kata “budaya” yakni  nilai-nilai kehidupan yang berjalan secara alami dimana  tidak lagi dirasakan sebagai beban oleh masyarakat. Mencermati fenomena tersebut, kita harus tetap optimis bahwa masyarakat kita sebenarnya bisa antri dan tertib berlalu lintas jika terbangun sistem pemerintah  yang kuat dan komitmen pada penegakan hukum serta adanya dukungan dari seluruh elemen masyarakat.

Peran Manajemen Sekolah

Sebagai bagian dari warga negara  kita wajib ikut berkontribusi sesuai kapasitas dan peran masing-masing. Sekolah sebagai institusi pendidikan dapat mengambil peran. Pendidikan merupakan instrumen yang  sangat kuat dan efektif untuk melakukan komunikasi, memberikan informasi, penyadaran, pembelajaran dan dapat memobilisasi  komunitas masa, serta menggerakkan bangsa ke arah kehidupan masa depan yang berkembang secara lebih berkelanjutan (more sustainably developed).