HET Beras Medium Sulit Dikontrol

Permendag 57/2017 Perlu Direvisi

509
CEK PASAR: Kepala Disperindag Jateng, Arif Sambodo didampingi sejumlah tim pengawas, melakukan cek HET beras di Pasar Dargo Semarang, kemarin (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG).
CEK PASAR: Kepala Disperindag Jateng, Arif Sambodo didampingi sejumlah tim pengawas, melakukan cek HET beras di Pasar Dargo Semarang, kemarin (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG – Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 57 Tahun 2017 tentang Penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras, perlu direvisi. Sebab, regulasi itu sulit diimplementasikan, terutama HET beras jenis medium.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jateng coba mengecek pelaksanaan Permendag tersebut di Pasar Dargo Semarang, Kamis (5/10). Di sana, ditemukan ada beras jenis medium yang dijual melebihi HET.

Salah satu pedagang beras di Pasar Dargo Semarang, Hendro Saputro mengaku tidak melulu bisa menjual beras jenis medium di bawah HET yang telah dipatok pemerintah, yakni Rp 9.450 per kilogram. Sebab, ada salah satu merk beras golongan medium yang dijual Rp 9.800 per kilogram.

“Itu harga yang saya beli dari pabrik, lho. Kan sudah di atas HET. Saya beli Rp 9.800, jualnya Rp 10 ribu. Nanti tingkat pengecer, pasti lebih tinggi lagi. Sampai Rp 11 ribu per kilogram,” ucap pedagang yang tokonya kerap menjadi tempat kulakan pengecer.

Karena itu, dia memberi masukan agar pemerintah tidak perlu menentukan HET beras medium. Dari pengalamannya, fluktuasi harga beras kelas medium berjalan dengan sendirinya sesuai dengan permintaan pasar dan masa panen beras. Ketika terjadi panen raya, harga akan turun. Sementara jika stok beras menipis karena sejumlah daerah gagal panen, otomatis harga naik.

“Pembeli tidak pernah mempermasalahkan HET. Kalau pas beras mahal karena gagal panen, mereka memaklumi. Toh kalau pas panen raya, harga beras ya jatuh,” terangnya.

Pedangang yang sudah 10 tahun berdagang beras ini juga mengkritisi mengenai penggolongan jenis premium dan medium. Sebab, range jenis medium cukup besar. Bahkan ada yang tingkat bulir pecahnya tergolong rendah, masih digolongkan jenis medium.

“Itu masukknya medium kelas 1 yang mendekati premium. Tapi kan HETnya tetap ikut kelas medium. Kalau dari pabrik harganya sudah tinggi, masa pedagang harus rela ambil laba sedikit demi menjaga HET,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Disperindag Jateng, Arif Sambodo menjelaskan, pengecekan di pasar ini merupakan bagian dari upaya pengawasan Permendag 57 Tahun 2017 yang diterbitkan 1 September lalu 2017. “Permendag itu memang perlu dievaluasi. Nah, pengawasan ini dalam rangka mengumpulkan informasi langsung dilapangan soal impelemetnasi Permendag tersebut,” bebernya.

“Semua hasil ini akan kami laporkan ke pusat untuk menjadi bahan pertimbangan evaluasi Permendag,” imbuhnya. (amh/zal)