Film Baru untuk Persatuan Bangsa

348
NARASI BARU: Ketua Umum Masyarakat Sejarawan Indonesia Hilmar Farid (kedua dari kanan) saat melantik pengurus MSI Cabang Jawa Tengah di Undip Semarang, Rabu (20/9) (PRATONO/JAWA POS RADAR SEMARANG).
NARASI BARU: Ketua Umum Masyarakat Sejarawan Indonesia Hilmar Farid (kedua dari kanan) saat melantik pengurus MSI Cabang Jawa Tengah di Undip Semarang, Rabu (20/9) (PRATONO/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG—Presiden Joko Widodo telah menggulirkan wacana untuk membuat film baru sejarah peristiwa 30 September 1965 terkait pro dan kontra penutaran kembali film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S/PKI. Perlu mengintegrasikan narasi-narasi baru untuk membuat film yang menyelesaikan masalah-masalah masa lalu demi menatap masa depan bangsa.

“Karena film itu sendiri (Penumpasan Pengkhianatan G 30 S/PKI, red) kan dibuat tahun 1984, sudah lama sekali. Sudah ada bukti-bukti baru, temuan-temuan cerita yang selama ini tak pernah didengar, ini mesti diintegrasikan,” tutur Ketua Umum Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Hilmar Farid usai melantik pengurus MSI Cabang Jawa Tengah Periode 2017-2022 di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Rabu (20/9).

Farid sepakat dengan wacana presiden Jokowi untuk membuat film baru tentang G 30 S. Tapi yang perlu ditekankan adalah tujuan dari pembuatan film tersebut. “Arahnya kalau menurut saya, (untuk) persatuan (bangsa). Kita ingin menyelesaikan warisan masa lalu. Semangatnya ini. Kita ingin menyelesaikan masa lalu agar bisa melangkah ke depan,” tutur pria yang juga Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini.

Mengintegrasikan berbagai narasi tentang peristiwa G 30 S sangat perlu dilakukan karena hasilnya nanti akan dipaparkan pada generasi yang sama sekali tak punya kaitan dengan salah satu periode sejarah Indonesia tersebut. Pemerintah, menurutnya, mampu melaksanakan tersebut. Sebab pemerintah memiliki akses penuh pada arsip-arsip yang ada. Dan yang tak kalah penting, pembuat film merupakan orang-orang yang punya kompetensi di perfilman.

Perlu ada upaya bersama untuk mengumpulkan narasi yang ada dengan satu tujuan, persatuan bangsa. Agar tak ada lagi dendam-dendam sejarah dan tak ada persoalan yang belum selesai di antara unsur-unsur masyarakat.

“Yang terjadi sekarang kita hanya buang waktu terlalu banyak. Kalau lihat komentar-komentar itu, seperti orang yang tidak baca apa yang sudah dihasilkan selama 30 tahun terakhir,” kata Farid. (ton)