Tolak Aksi Rohingya di Candi Borobudur

345
AKSI POSITIF: FKUB mendukung aksi damai untuk peduli Rohingnya di Masjid An Nur pada 8 September mendatang (MUKHTAR LUTFI/JAWA POS RADAR KEDU).
AKSI POSITIF: FKUB mendukung aksi damai untuk peduli Rohingnya di Masjid An Nur pada 8 September mendatang (MUKHTAR LUTFI/JAWA POS RADAR KEDU).

MUNGKID— Rencana aksi peduli Rohingya yang akan dilakukan oleh sejumlah organisasi Islam di kawasan Candi Borobudur pada 8 September medatang, akhirnya batal. Selain lokasi tersebut merupakan objek vital, penolakan juga banyak muncul dari para pelaku wisata.

”Rencana kegiatan aksi peduli Rohingnya tidak boleh dilaksanakan di kawasan Candi Borobudur. Sehingga dialihkan ke Masjid An Nur kompleks Pemkab Magelang,” kata Waka Polres Kompol Heru Budiharto, kemarin.

Menurut Heru, pengalihan lokasi aksi dilakukan karena kawasan Borobudur, merupakan salah satu area larangan untuk menggelar aksi. ”Sudah sepakat, paniti aksi juga sudah kita ajak berkomunikasi.”

Nantinya, dalam aksi damai di komplek Masjid An Nur, akan digelar sejumlah kegiatan. Di antaranya, salat Jumat bersama, doa bersama, dan penggalangan dana. Meski begitu, Polres tetap akan menyiagakan petugas pengamanan di lokasi aksi. “Kamis besok (hari ini), baru akan dilakukan gelar pasukan di Mako Polres. Mau jadi atau tidak aksi, tetap akan dilakukan gelar pasukan.”

Koordinator aksi, Anang Imamuddin mengatakan, aksi yang akan dilakukan pihaknya, bentuk empati dan dukungan kepada muslim Rohingya. Mereka tengah menderita akibat konflik berkepanjangan. ”Ini wujud empati kami kepada muslim Rohingya atas nama umat Islam dan manusia.” Anang membantah aksi tersebut akan dilakukan di Candi Borobudur. “Kami luruskan, bahwa kami tidak mengadakan aksi di Candi Borobudur. Kami tahu ada undang-undang yang melindungi cagar budaya dunia tersebut. Kami sudah berkoordinasi dengan Polres dan aparat lainnya.”

Terpisah, Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Magelang, ormas Islam, Banser, Kokam, serta pelaku wisata menandatangani kesepakatan damai, terkait rencana aksi 8 September 2017.

Pernyataan sikap FKUB dan pelaku wisata diteken, setelah berlangsung pertemuan bersama FKUB, Forkompinda, MUI, tokoh agama, dan ormas se- Kabupaten Magelang. Pertemuan berlangsung di Mapolres Magelang, Selasa (5/9) kemarin.

Pertemuan dipimpin oleh Waka Polres Magelang, Kompol Heru Budiharto. Hadir dalam kegiatan itu, Ketua DPRD Kabupaten Magelang, Saryan Adi Yanto SE; Plt Sekda Eko Triyono, perwakilan dari Kodim, Kejaksaan, serta PT Taman Wisata Candi Borobudur dan Balai Konservasi Borobudur. Unsur lain yang hadir, Banser, KNPI, Kokam, dan lainnya.

Hani Sutrisno, penggiat wisata Borobudur tegas menolak aksi peduli Rohingya dilakukan di kawasan Candi Borobudur. Menurut Hani, hal itu akan berdampak pada pariwisata. ”Keprihatinan atas kasus Rohingya pasti juga kita rasakan. Tapi, setidaknya jangan justru aksi yang positif, melahirkan dampak negatif.”

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta semua pihak agar tidak menyamaratakan sikap umat Buddha di Indonesia, termasuk Jateng, dengan yang ada di Myanmar. Ganjar mengaku sudah berkomunikasi dengan umat Buddha di Jateng.

“Mereka sepakat sikap umat Buddha Indonesia berbeda dari Myanmar. Itu bagian dari krisis kemanusiaan yang mereka tidak sepakat dengan tindakan-tindakan kekerasan yang menjurus genosida,” ucapnya, Selasa (5/9).

Silakan beri komentar.