Modal Uang Saku, Kini Kelola Dua Koperasi

Dewi Nurcahya Ningsih, Pendiri Koperasi Anak Jalanan Gunung Brintik

534
Dewi Nurcahya Ningsih (DOKUMEN PRIBADI).
Dewi Nurcahya Ningsih (DOKUMEN PRIBADI).

Eksperimen Dewi Nurcahya Ningsih di luar kebiasaan anak muda. Ia nekat terjun langsung di dunia anak jalanan. Dewi mendirikan koperasi anak jalanan di dua kota, yakni Semarang dan Jogja. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

PERJUANGAN Dewi Nurcahya Ningsih merintis koperasi anak jalanan benar-benar dari nol. Ia memulai saat masih duduk di kelas 1 SMA Negeri 3 Semarang pada 2011. Koperasi tersebut tidak sekadar koperasi biasa. Tetapi koperasi yang menjadi muara bisnis berbasis kegiatan sosial. Tentu hal ini tidak mudah. Ia memiliki perjalanan dan pengalaman panjang tentang seputar anak jalanan. “Awalnya 2011, saat itu saya masih kelas 1 SMAN 3 Semarang.  Saya sering melihat banyak anak jalanan di Tugu Muda. Saya berpikir, bagaimana caranya agar para anak jalanan itu bisa dapat uang, tapi tidak dengan cara mengamen,” kata Dewi kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Akhirnya, dia berusaha melacak di mana tempat tinggal para anak jalanan tersebut menetap. Langkah pertama, Dewi mengajak salah satu temannya untuk pergi ke Dinas Sosial (Dinsos) Kota Semarang. “Saya menilai Dinsos pasti tahu tentang informasi anak-anak jalanan. Akhirnya, saya mendapat informasi anak-anak jalanan tersebut menetap di daerah Gunung Brintik (sekarang Kampung Pelangi Semarang). Ternyata mereka beranak pinak di situ,” ujarnya.

Dia berupaya mendekati keluarga pengamen yang tinggal di daerah Gunung Brintik. “Saya temui tokoh masyarakat namanya Bu Prapto, beliau pernah jadi anak jalanan juga, tapi orangnya peduli. Saya dibantu diperkenalkan ke beberapa orang. Saya janjian ketemu dengan anak jalanan. Saya ikut ngamen dua minggu. Pulang sekolah sore hari, ganti baju, langsung ikut ngamen bersama mereka agar dapat hati mereka,” katanya.

Setelah akrab, lanjut Dewi, sedikit demi sedikit ia tawarkan kepada mereka soal koperasi dan memerkenalkan bisnis sederhana. Ia mengajarkan bagaimana agar uangnya bertambah. “Mereka awalnya juga males, hanya ada dua orang pengamen yang ikut. Saya ikut ngamen 10 orang, yang ikut koperasi hanya 2 orang. Tapi lama-kelamaan, begitu tahu koperasi bisa bertahan dan berkembang, teman-teman mereka tertarik, hingga 12 anak jalanan ikut koperasi,” kenangnya.

Dia perkenalkan konsep koperasi, mulai adanya simpanan pokok, simpanan wajib, sukarela, dan seterusnya. “Saya juga ikut iuran. Modal pertama hanya Rp 15 ribu, uang saku saya sekolah. Uang modal tersebut kemudian ‘diputar’ untuk menjalankan bisnis jualan gorengan. Saya ajak anak-anak jalanan di Tugu Muda untuk jualan gorengan. Uang keuntungan tidak dibagi semuanya, melainkan disisihkan keuntungannya untuk ditabung setiap hari. Sebagian dibagi untuk kebutuhan setiap hari,” katanya.

Baru dua minggu berjalan, lanjutnya, ternyata uang modal Rp 15 ribu tersebut bisa berkembang menjadi Rp 300 ribu. “Saya berpikir, ternyata bisnis itu tidak harus modal banyak, tapi niat dan prihatin. Duit yang ada tidak dihabisin, tapi dibuat modal. Itu berhasil mengurangi intensitas mereka mengamen, sekaligus mengajari kemandirian berbisnis,” ujarnya.

Silakan beri komentar.