Permudah Pelaku Usaha Kuliner

877

PENGAMAT kuliner Semarang, Sarah Siti Kawiryan Wiryono, menilai semakin maraknya Food Blogger (FB) merupakan hal yang positif. Perempuan cantik yang akrab disapa Nanan Wiryono ini menjelaskan, FB adalah sebutan bagi mereka yang mengisi blog-nya dengan ulasan tentang makanan atau tempat kuliner, mulai jajanan warung, kafe, hingga restoran di hotel.

Menurutnya, konsep tersebut sangat mempermudah orang atau pelaku usaha, karena tidak perlu mengeluarkan investasi besar saat mengawali usaha kuliner. Tempat tidak perlu bagus, bahkan bisa dilakukan ibu-ibu sambil mengasuh anaknya di rumah. Selain itu, akan membuat orang merasa lebih bisa merasakan makanan, dan melatih orang membandingkan rasa.

”Dengan adanya Food Blogger orang akan bisa melihat apa yang lagi musim, jadi bisa membuat orang mempunyai kualitas rasa dan tentunya konsep yang sangat positif,” kata Nanan Wiryono saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (9/6) malam.

Istri dari Ketua Kongres Advokat Indonesia (KAI) Jateng, John Richard Latuihamallo ini, menganggap FB bukanlah bagian dari strategi pemasaran, melainkan lebih ke gaya hidup atau lifestyle.

”Orang zaman sekarang itu suka hidup instan, dengan adanya Food Blogger akan mempermudah orang untuk membeli makanan atau minuman tanpa harus pergi, melainkan bisa langsung pesan antar setelah mendapatkan referensi kuliner dari membaca blog,” ungkapnya.

Terkait inovasi FB, pendiri sekolah masak WL Home Kitchen Semarang ini menyarankan, agar pelaku FB bisa selalu memberikan pembaharuan menu dan alternatif tempat kuliner. Sehingga kreativitasnya perlu dimaksimal dan cara mem-branding produk juga dilakukan dengan yang unik dan mudah dipahami konsumen.

”Pelaku Food Blogger bisa membuat inovasi baru, seperti ada paket atau promo kerja sama. Misalnya, yang biasanya pembelian menggunakan WhatsApp, kemudian konsumen langsung memilih dan diantar, bisa melakukan inovasi baru dengan membuat seperti Traveloka, jadi tanpa ketemu dengan pembuat bisa langsung ada,” katanya.

Nanan mengakui masih ada kelemahan dari konsep FB, seperti saat barang dikirim ke konsumen ternyata tidak sama dengan yang difoto. Ia mengatakan, makanan konsep FB biasanya makanan belum tentu sama dengan gambar, baik bentuk dan rasanya, karena konsumen tidak bisa melihat langsung teksturnya, rasa dan cara pembuatan, melainkan hanya bisa melihat gambar. (jks/aro/ce1)