180 KK Dusun Cipluk Wetan Masih Terisolasi

992
MEMPRIHATINKAN : Anak-anak di Dusun Cipluk Wetan, Desa Sidokumpul Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal, harus menyebrangi sungai untuk bersekolah. ​(BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MEMPRIHATINKAN : Anak-anak di Dusun Cipluk Wetan, Desa Sidokumpul Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal, harus menyebrangi sungai untuk bersekolah. ​(BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDAL—Warga Dusun Cipluk Wetan, Desa Sidokumpul, Kecamatan Patean hingga saat ini masih terisolasi. Pasalnya, jembatan penghubung antara Dusun Cipluk Wetan dengan Cipluk Kulon putus, akibat diterjang banjir pada 2015 hingga kini belum tersentuh pembangunan.

Akibat putusnya jembatan tersebut, warga harus menyebrangi Sungai Blukar yang jaraknya sekitar 300 meter lebih untuk bisa beraktivitas. Itupun jika kondisi sungai tidak sedang pasang. Kalau sungai pasang, warga terpaksa memutar melalui desa lain yang jaraknya lebih dari 15 kilometer.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, anak-anak yang sekolah setiap harinya harus menyebrangi sungai. Ada yang didampingi orang tuanya dengan cara digendong agar pakaian seragam dan buku tidak basah terkena air sungai. Lantaran jarak yang lumayan jauh dan hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki karena jembatan putus, anak-anak di Cipluk Wetan harus berangkat sekolah dari rumah sekitar pukul 06.00.

Lantaran tidak ada sekolah di Dusun Cipluk Wetan. Sekolah terdekat SD N 3 Sidokumpul yang berada di Cipluk Kulon. Meski setiap berangkat dan pulang harus menyeberangi sungai, hal itu tak menyurutkan semangat anak-anak di Cipluk Wetan untuk tetap menuntut ilmu.

Lia Safitri, 12, siswi kelas enam SD 3 Sidokumpul mengakui takut jika harus menyeberang sungai sendiri. Makanya, ia selalu diantar jemput oleh orang tuanya saat akan menyeberangi sungai. Bahkan kondisi Ramadan seperti ini, tak menyurutkan niatnya untuk tetap menjalan ibadah puasa. “Memang agak lemas, karena kalau pulang sangat panas dan harus jalan kaki menyeberangi sungai,” akuya.

Jika orang tua belum menjemput, ia bersama anak-anak lainnya terpaksa harus menunggu sampai orang tuanya datang menjemput. Beruntung sungai tidak terlalu dalam dan air tidak deras. Sehingga warga dan siswa bisa menyeberangi sungai dengan kendaraan roda dua yang membedakan hanya cuaca terik di siang hari.

Kondisi sungai yang surut dimanfaatkan warga setempat dan warga sekitar Dusun Cipluk Wetan untuk mengambil batu yang digunakan sebagai jalan darurat. “Rencananya batu akan disusun agar bisa digunakan untuk menyeberang warga dan anak-anak agar tidak basah,” kata Nurjaman, 42, warga sekitar.

Menanggapi hal tersebut, Camat Patean, Yanuar Fatoni mengaku jembatan memang belum diperbaiki. Lantaran jarak sungai yang panjang mencapai 300 meter tidak memungkinkan warga membangun jembatan sementara.

“Kalau dibangun jelas butuh material kayu yang tidak sedikit. Selain itu, tidak akan bertahan lama. Sudah berkali-kali dibangun jembatan, akhirnya roboh bahkan lenyap karena diterjang banjir dari Sungai Blukar yang meluap,” katanya.

Dari data dusun, di Cipluk Wetan sedikitnya ada180 kepala keluarga (KK) dengan jumlah penduduk sebanyak 500 jiwa. “Kami maupun warga, harapannya jembatan bisa segera dibangun. Karena jembatan merupakan satu-satunya akses warga,” akunya.

Sejauh ini, pembangunan jembatan sudah diusulkan melalui Musrenbang.  Rencananya akan dibangun pada 2018 dengan anggaran yang diajukan sebesar Rp 2 miliar. “Kalau tidak pemerintah daerah, nanti akan diperbaiki Pemerintah Provinsi Jateng,” tuturnya. (bud/ida)