Masuk Fakultas Hukum Keceelakaan yang Barokah

1631

TERLAHIR di keluarga yang memiliki latar belakang kemiliteran, sikap tegas dan gagah terlihat pada sosok Kepala Humas Universitas Diponegoro (Undip), Nuswantoro Dwiwarno. Bapak dua anak ini dulu bercita-cita menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) mengikuti jejak kakek dan ayahnya.

Baca Juga :

Ditemui Jawa Pos Radar Semarang diruangannya, Jumat (2/6), Nuswantoro bercerita bahwa sikapnya itu terbentuk oleh didikan orang tuanya dari kecil. Nuswantoro besar di lingkungan asrama TNI di Sragen. Ayahnya yang seorang prajurit TNI menerapkan pola disiplin dan jujur kepada anak-anaknya.

“Saya lahir di Magelang, tapi besar dan tumbuh di Sragen karena ikut bapak yang dinasnya di sana. Beliau selalu ngajarin disiplin ke anak-anaknya, mungkin bawaan profesi juga,” ujarnya.

Sayangnya ia tidak berhasil dalam mengikuti seleksi untuk masuk TNI di Akademi Militer (Akmil). Hal ini membuatnya tertarik pada bidang hukum, yang dirasa tidak terlalu jauh dari cita-citanya.

Pria yang berulangtahun setiap tanggal 23 Desember ini mengaku, keputusan memilih disiplin ilmu hukum merupakan sebuah kecelakaan. Pasalnya bidang ini kemudian menjadi jalan hidup yang ia lakoni hingga saat ini.

“Ya dulu inginnya meneruskan dari keluarga untuk militer, tetapi sudah daftar di Akmil tidak lolos. Makanya kemudian saya pilih ilmu hukum dan jadi jalan hidup ya saya pikir itu adalah kecelakaan yang barokah,” kata dia diikuti tawa.

Meski memiliki kesan serius dan galak, Nuswantoro gemar bersosialisasi. Ia senang berinteraksi baik dengan kawan lama maupun baru. Namun ia mengamini pendapat orang yang menyebutnya galak.

Keseriusannya menekuni bidang hukum dibuktikannya dengan terus mempelajari ilmu ini hingga S3.  “Mau nggak mau tuntutan sebagai seorang pengajar. Tapi juga menjadi kewajiban moral dan normatif untuk mengenyam pendidikan tertinggi,” bebernya.

Ketika ditanya tentang apakah kondisi hukum di Indonesia menjadi alasannya memilih bidang ilmu tersebut, Nuswantoro justru mengaku bahwa dirinya mulai paham tentang hukum-hukum di Indonesia sejak menjadi mahasiswa.

“Penyimpangan implementasi hukum yang ada di lapangan, bagaimana proses hukum itu dibuat. Saya baru tahu semua itu ya setelah jadi mahasiswa hukum dan saya makin tertarik, terlupa keinginan untuk jadi tentara,” ujarnya tertawa.

Besarnya rasa keingintahuan dirinya pada Hukum, dari setiap materi yang didapatkan selama belajar diperkuliahan, ia pun mempraktikkannya dengan mengikuti beberapa diskusi, kegiatan dan organisasi yang ada di Kampus.

Ia pun pernah menjabat sebagai Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Hukum pada tahun 1990-1991. “Ya saya jadi ketua karena banyak teman saja, bukan apa-apa. Tapi saya lakoni itu sebagai amanah jadi tidak main-main,” katanya bercanda.

Mendapatkan beasiswa ikatan dinas dari Dikti pada saat memasuki semester 5 itulah yang kemudian membawanya pada profesi sebagai seorang dosen di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro sejak tahun 1993 hingga saat ini. Sehingga bisa dikatakan setengah hidupnya dihabiskan untuk mengabdi di Undip. (tsalisati/zal)