Sudah Bercita-cita Jadi Uskup sejak Kecil

Lebih Dekat dengan Uskup Agung Semarang MGR Robertus Rubyatmoko

902
INGIN SELALU BERSAMA UMAT: Uskup Agung Semarang MGR Robertus Rubyatmoko melayani, mendoakan dan menjabat tangan umatnya satu per satu penuh cinta kasih. (DIAZ AZMINATUL ABIDIN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
INGIN SELALU BERSAMA UMAT: Uskup Agung Semarang MGR Robertus Rubyatmoko melayani, mendoakan dan menjabat tangan umatnya satu per satu penuh cinta kasih. (DIAZ AZMINATUL ABIDIN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

MGR Robertus Rubyatmoko baru saja ditahbiskan sebagai Uskup Agung Semarang, pada Jumat (19/5) lalu. Romo Ruby-sapaan akrabnya- dikenal sebagai sosok yang sederhana dari kampung dan sangat humoris. Seperti Apa?

DIAZ AZMINATUL ABIDIN

GEREJA Katedral Semarang, Sabtu malam (20/5) lalu, dipenuhi umat Katolik yang melakukan ibadah Misa. Namun Misa kali ini sedikit berbeda, begitu yang dirasakan umat. Pasalnya hari itu, menjadi Misa pertama yang dipimpin Uskup Agung Semarang Romo Ruby setelah ditahbiskan Jumat (19/5) lalu, di Lapangan Bayangkara Akpol Semarang.

Ratusan umat Katolik tampak khusyuk dalam Misa malam itu. Romo Ruby dengan jubah berwarna putih sangat khusyuk memimpin ibadah hampir dua jam lamanya.

Dalam khotbahnya, Romo Ruby memiliki daya humor yang tinggi. Hal ini terlihat ketika celetukan-celetukannya memancing tawa oleh ratusan umat yang datang dan sengaja menyambut Romo Ruby pada Misa pertamanya.

Seusai Misa, para umat Katolik berbondong-bondong mendekati mimbar tempat uskup berada, hanya sekadar berjabat tangan, berfoto serta meminta doa dari Romo Ruby.

Barisan umat memanjang ke belakang dari lokasi di depan altar tempat memimpin ibadah. Satu per satu, umat mencari kesempatan untuk berjabat tangan dan berfoto. Romo Ruby dengan ramah menyalami satu-persatu umat bahkan berswafoto (selfie).

Ada pula umat yang mengharap doa dari Romo Ruby. Romo Ruby pun menyentuh dahi umat yang meminta doanya. Prosesi doa sejenak dalam barisan ini, memantik umat meneteskan air mata saat dahinya disentuh dan dipanjatkan doa. ”Semoga saya bisa jadi uskup yang baik dan bisa melayani umat Katolik sebagai gembala dengan baik,” ujar Romo Ruby setelah selesai menyalami umat di gereja kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dengan dirinya ditahbiskan menjadi uskup, Romo Ruby ingin bersama-sama umat mencari keselamatan dan kedekatan dengan Tuhan. ”Semoga umat bisa bersama sama dengan saya, mencari keselamatan dan kedekatan dengan Yesus,” imbuhnya.

Romo Ruby merupakan sosok kelahiran Sleman Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) 10 Oktober 1963 silam. Ia anak keempat dari lima bersaudara dari keluarga besar Harjopartono. Kakak pertamanya bernama Narti, kemudian Sunardi Broto, dan Sumunarwati, serta satu adik laki-laki bernama Hariyanto.

Sebelum meninggalkan gereja, Romo Ruby sempat menceritakan kisahnya yang ingin menjadi uskup agung sedari kecil. ”Kalau diceritakan, prosesnya panjang. Dari kecil saya memang bercita-cita menjadi uskup. Untuk mewujudkan hal itu, saya mengawali pendidikan di Seminari Menengah Mertoyudan Magelang,” katanya.

Romo Ruby lalu melanjutkan pendidikan ke Seminari Tahun Rohani Keuskupan Agung Semarang di Wisam Jangli 1984-1985. ”Kemudian tahun 1985, saya memutuskan ingin belajar filsafat di Universitas Sanata Darma Jogjakarta. Waktu itu, saya tinggal di Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan Jogjakarta hingga tahun 1992,” terangnya.

Pada 1993 Romo Ruby diberi tugas oleh Keuskupan Agung MGR Julius Darmaatmadja dari Keuskupan Agung Semarang, untuk belajar hukum di Gereja Roma, Italia selama lima tahun sampai ia pulang pada 1997. ”Lalu saya bertugas sebagi staf Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan Jogjakarta dan dosen hukum gereja Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma,” tuturnya.

Pada 2011, Romo Ruby diangkat menjadi Vikaris Yudisial Keuskupan Agung Semarang. 10 November 2015 posisi Uskup Agung lowong karena meninggalnya Uskup Agung Juhannes Pujasumarta. ”Waktu itu, uskup sementara digantikan oleh RD FX Sukandar selaku administrator keuskupan. Hingga akhirnya 19 Mei 2017, saya ditahbiskan menjadi Uskup Agung yang baru. Prosesnya memang panjang, maka harapan saya bisa melayani umat Katolik dalam menjalankan perintah Tuhan dengan baik,” pungkasnya.

Pengakuan tentang sosok Romo Ruby dikuatkan oleh Kepala Paroki Gereja Katedral Semarang, Aloysius Gonzaga Luhur Prihadi PR. Ia menganggap sosok MGR Robertus Rubiyatmoko sebagai orang yang tekun dan baik dalam pergaulan semasa menuntut ilmu.

”Saya mengenal uskup sejak di Seminari Menengah Mertoyudan selama tiga tahun. MGR Robertus Rubiyatmoko semasa menuntut ilmu memiliki selera humor yang baik. Dalam pergaulannya pun baik,” terang Aloysius yang pernah menjadi rekan semasa menuntut ilmu di Seminari Menengah Mertoyudan.

Selain humoris, menurutnya, Romo Ruby tidak membeda-bedakan di dalam pergaulannya. ”Dulu saya mengenal beliau sebagai teman, tapi sekarang sebagai pimpinan. Sekarang kami memercayai beliau sebagai gembala pemimpin umat,” terangnya.

Sebagai umat Katolik, Aloysius sangat bangga rekannya dahulu bisa menjadi uskup agung. ”Saya sangat bangga, semoga uskup bisa menyapa para imam, para paroki, dan saling membantu dalam menjalankan perintah Tuhan,” harapnya. (*/ida/ce1)