Santri Harus Bisa Jadi Tenaga Terampil

860
MEMBELUDAK: Helatan Manbaul Hikmah Bersholawat yang digelar di Pondok Pesantren (Ponpes) bersama Habib Syech Abdul Qodir Assegaf, Senin malam (1/5) kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MEMBELUDAK: Helatan Manbaul Hikmah Bersholawat yang digelar di Pondok Pesantren (Ponpes) bersama Habib Syech Abdul Qodir Assegaf, Senin malam (1/5) kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDAL—Pondok Pesantren diminta menyiapkan para santrinya untuk dididik menjadi tenaga kerja terampil ataupun tenaga kerja terdidik. Sebab, kehadiran Kawasan Industri Kendal (KIK) menjadikan Kabupaten Kendal sebagai salah satu kota industri terbesar di Jateng.

Demikian disampaikan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo saat memberikan sambutan pada helatan Manbaul Hikmah Bersholawat di Pondok Pesantren (Ponpes) Manbaul Hikmah, Senin malam (1/5) kemarin. Menurutnya, warga Kendal harus bisa menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri.

“Kehadiran KIK ini, jika tidak segera disikapi dengan penyiapan tenaga kerja yang baik, maka Kendal akan dikuasai asing. Sehingga warga Kendal hanya bisa jadi buruh dan tidak bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” kata Ganjar.

Makanya, ia meminta agar pesantren selain memberikan ilmu-ilmu agama, juga memberikan keterampilan lain kepada para santrinya. Sehingga begitu lepas dari pesantren bisa langsung bekerja sesuai ketrampilan yang dimiliki. “Tenaga terampil inilah yang nantinya dibutuhkan perusahaan,” tuturnya.

Menurutnya, jika warga Kendal hanya mengincar kerja sebagai buruh pabrik ataupun tenaga serabutan menjadi tenaga kerja tak terdidik, maka warga Kendal akan tertinggal. Secara otomatis  Kendal akan dikuasai oleh tenaga-tenaga terampil dari luar daerah.

“Dengan adanya KIK ini, Kendal saat ini menjadi lirikan seluruh pengusaha dari berbagai negara. Kendal menjadi incaran dunia. Makanya pendidikan generasi muda ini harus dipersiapkan sejak dini untuk menyongsong masa yang akan datang,” tandasnya.

Ia berharap para santri yang akan mengisi tenaga-tenaga kerja terampil di KIK. Sebab santri menurutnya memiliki nilai plus. Yakni selain pandai ilmu agama juga memiliki karakter yang amanah dan jujur. “Kejujuran inilah yang saat ini dibutuhkan semua perusahaan yang ada saat ini,” tambahnya.

Sementara itu, Pengasuh Ponpes Manbaul Hikmah, KH Suyuthi Murtadlo mengatakan bahwa selain kegiatan mengaji, di pesantrennya ada pendidikan formal. Yakni SMP, SMA dan SMK serta perkuliahan. “Sehingga begitu keluar, langsung bisa terjun ke masyarakat,” tuturnya.

Sementara Habib Syech Abul Qodir Assegaf menekankan agar santri harus bisa apa saja. Tidak hanya ilmu agama, tapi ilmu-ilmu dunia juga harus dikuasai.  Sesuai jargonnya santri iso opo wae, opo wae iso.

Acara Manbaul Hikmah Bersholawat ini dihadiri belasan ribu warga dari berbagai daerah. Selain warga juga dihadiri para pecinta Habib Syech (Syechermania). Di antaranya dari Pemalang, Pekalongan, Cirebon, Batang, Kota Semarang, Demak, Solo, Kudus dan sebagainya. (bud/ida)