Normalisasi Usai, Kali Kembali Penuh Sampah

1859
KESADARAN RENDAH : Kondisi sungai di sepanjang Jalan Raya Mranggen-Onggorawe kembali dipenuhi sampah, meski baru saja selesai dilakukan normalisasi sungai. (AHMAD ABDUL WAHAB/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KESADARAN RENDAH : Kondisi sungai di sepanjang Jalan Raya Mranggen-Onggorawe kembali dipenuhi sampah, meski baru saja selesai dilakukan normalisasi sungai. (AHMAD ABDUL WAHAB/JAWA POS RADAR SEMARANG)

DEMAK-Meski sudah dipasang spanduk larangan buang sampah, namun kondisi kali di sepanjang Jalan Raya Mranggen-Onggorawe kembali dipenuhi sampah. Padahal sungai tersebut baru selesai dilakukan normalisasi melalui bantuan Gubernur Jawa Tengah.

Kepala Dusun Waru, Komsahadi, mengaku jika tumpukan sampah terbanyak di wilayahnya, tetapi kondisi itu bukan semata dilakukan oleh warga setempat. Melainkan juga oleh warga dari luar desa yang sengaja membuang sampah ke kali. Di sisi lain, keberadaan Pasar Waru yang berada dekat dengan aliran kali otomotis membuat pedagang membuang sampah sembarangan. “Sudah sering diperingatkan, bahkan banyak pengendara motor yang sengaja membuang karung-karung sampah ke kali,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (1/5) kemarin.

Komsahadi menyayangkan perilaku warga, padahal bantaran kali khususnya di Desa Waru menjadi penyebab utama banjir. Sehingga perlu ada tanggung jawab bersama bukan hanya warga dan Pemerintah Desa (Pemdes) Waru saja, meskipun diakui lahan pembuangan sendiri sangat minim. “Harus menjadi kesadaran bersama, apalagi normalisasi sendiri sudah dilakukan. Jadi seterusnya, lingkungan yang bersih harus menjadi tanggung jawab bersama,” ungkapnya.

Ketua Komunitas Pecinta Lingkungan Desa Waru, Iskhak, mengatakan bahwa pihaknya masih menunggu realisasi tempat-tempat pembuangan akhir dari permohonan yang telah diajukan ke Pemkab Demak. Namun demikian, pihaknya masih akan terus melakukan aksi bersih-bersih desa setiap 2 minggu sekali.

Dikatakannya, kebiasaan masyarakat adalah kunci utama agar Desa Waru bebas dari langganan banjir. “Sudah rutin dibersihkan, bahkan kami siap mengumpulkan sampah warga untuk seterusnya dibakar, meskipun saat ini belum optimal karena keterbatasan alat penujang dan fasilitas yang seadanya,” ujarnya. (mg28/ida)