Waspadai 25 Perlintasan KA

Jalur Anjasmoro-Stasiun Alastua

1061
YATIM PIATU: Febrian Danar Saputra saat menerima santunan dari PT Jasa Raharja. (DIAZ AZMINATUL ABIDIN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
YATIM PIATU: Febrian Danar Saputra saat menerima santunan dari PT Jasa Raharja. (DIAZ AZMINATUL ABIDIN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Kecelakaan maut yang terjadi di perlintasan rel kereta api (KA) baik yang berpalang pintu maupun tidak di Kota Semarang cenderung meningkat. Apalagi setelah dibangun jalur rel ganda atau double track. Sebab, dalam sehari lebih dari 40 KA melintas. Yang terakhir, tiga orang tewas dalam kecelakaan maut di perlintasan tanpa palang pintu di RW VII Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, Jumat (21/4) lalu.

Penelusuran Jawa Pos Radar Semarang setidaknya terdapat 25 perlintasan KA mulai kawasan Anjasmoro, Kelurahan Karangayu hingga Stasiun Alastua, Kelurahan Bangetayu Wetan. Dari Jalan Anjasmoro Raya sampai dengan Jalan Ronggowarsito ada 12 perlintasan. Rinciannya, 9 perlintasan berpalang pintu, dua tidak berpalang pintu, dan satu menggunakan terowongan.

Dua perlintasan tidak berpalang pintu, yakni jalur yang hanya bisa dilewati pejalan kaki di belakang Pasar Karangayu menuju Jalan Pringgodani, serta di Jalan Mustokoweni RT 11 RW 1 Kelurahan Plombokan. Sementara di Jalan Sawojajar menuju Kampung Wiroto, Kelurahan Karangayu menggunakan terowongan sehingga lebih aman. Sebab, jalur KA berada di atas jalan.

Rizky, 23, warga setempat mengatakan, perlintasan Jalan Mustokoweni RT 11 RW 1 kerap terjadi kecelakaan karena tanpa palang pintu dan letaknya di perkampungan. Menurut sepengetahuannya cukup banyak terjadi kecelakaan di perlintasan tersebut.

”Sering (kecelakaan) Mas dulu sampai sekarang. Kalau jumlahnya gak terhitung. Pintu perlintasan itu memang rawan, harus hati-hati, apalagi malam hari,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ihsan, 23, warga Jalan Noroyono, mengatakan, dulu dari Jalan Kokrosono sampai Jalan Brotojoyo, banyak perlintasan KA yang dibuka warga sebagai jalan pintas menuju Jalan Indraprasta. Hal itu karena sepanjang samping rel didirikan  rumah-rumah sejak puluhan tahun lalu yang tidak memiliki hak tanah. Namun sejak beberapa tahun lalu, PT KAI melakukan penertiban, sehingga warga mendapat ganti untung untuk membeli rumah di tempat lain.

”Sekarang mulai Jalan Anjasmoro-Jalan Kokrosono-Jalan Brotojoyo-Stasiun Poncol sampai Stasiun Tawang, sudah dipagar beton di sisi kanan kiri rel. Sehingga jalur-jalur penyeberangan warga tanpa palang pintu sudah berkurang,” ujarnya.

Sedangkan dari Jalan Ronggowarsito sampai Stasiun Alastua, dari sekitar 13 perlintasan, hanya ada dua perlintasan yang berpalang pintu, yakni di Jalan Raya Kaligawe dan dekat Stasiun Alastua Kelurahan Bangetayu Kulon. Selain itu, ada dua titik perlintasan yang dijaga warga, karena arus lalu lintasnya padat sehingga rawan terjadi kecelakaan. Yakni, di kawasan Jalan Muktiharjo Raya menyeberang menuju Jalan Tlogosari Raya atau Kampung Ngablak, serta Jalan Bangetayu Wetan menuju Jalan Syuhada atau dikenal Kampung Bugen.

Sigit NH, 25, mengaku sering melewati perlintasan Jalan Muktiharjo Raya-Jalan Tlogosari Raya menuju kampusnya, Universitas Semarang (USM). Hampir setiap sore hari, sepulang bekerja dari kawasan Genuk Indah, ia menggunakan rute tersebut karena menjadi jalan pintas daripada harus memutar lewat Jalan Kaligawe Raya.

”Yang paling dekat ya lewat sini. Kalau jumlah yang melintas di sini banyak, sehari ratusan bahkan ribuan warga. Lihat saja, tidak pernah sepi, bahkan kalau pagi atau sore hari pas jam berangkat dan pulang kerja juga sering macet meskipun ada penjaganya,” katanya.

Menurutnya, mobilitas masyarakat di perlintasan Jalan Muktiharjo Raya-Jalan Tlogosari Raya tidak kalah ramai dengan Jalan Raya Kaligawe, dan perlintasan Bangetayu Wetan di bawah Jembatan Layang Alastua.

”Sudah ada penjaga swadaya warga. Kalau akan ada kereta api melintas, jalannya ditutup. Itu dibikinkan pintu buatan sendiri tapi maksimal. Mereka selalu berjaga di sini, warga yang lewat sukarela memberi imbalan, lempar uang di ember kecil itu sebagai ucapan terima kasih,” ujarnya.

Warga sekitar, Harsono, 27, mengatakan, di titik Jalan Bangetayu Wetan-Syuhada juga tak kalah ramai. Meskipun tak berpalang pintu tapi dijaga, namun tetap saja rawan. Terakhir ada kecelakaan yang melibatkan kendaraan roda tiga (Tossa) yang ditabrak kereta api.

”Terakhir menimpa Tossa, tapi aman tidak ada korban. Seberapa seringnya saya tidak bisa bilang. Tapi meskipun dijaga ya tetap kita selalu hati-hati, lihat kanan-kiri sebelum menyeberang. Masalahnya kan rel ganda, kalau dari sana sudah lewat, juga lihat arah yang satunya, bahaya,” katanya.

Diakui, melewati perlintasan rel ganda memang harus lebih waspada, karena nyatanya sudah banyak jatuh korban jiwa lantaran ditabrak kereta api. Selain faktor manusia yang lalai, faktor teknis juga menjadi penyebab kecelakaan. Sering terjadi, mesin kendaraan mati di tengah-tengah rel. Hal inilah yang menurut saksi menyebabkan kecelakaan maut di Tambakrejo, Jumat lalu.

Dalam peristiwa itu, Masrekhah, 35, warga Kampung Pondok RT 2 RW 9 Tambakrejo, tewas seketika bersama Andika, 5, anaknya, serta Reihan Zufa, 7, keponakannya, setelah motor Honda Beat yang dikendarai  ditabrak KA Kalijaga jurusan Semarang-Solo. Bahkan akibat kejadian itu, Febrian Danar Saputra, 11, putra sulung Masrekhah menjadi anak yatim piatu. Sebab, baru 100 hari, suami Masrekhah, yakni Hudi Krismono, juga tewas akibat kecelakaan. Sabtu (22/4) lalu, Febrian tak banyak bicara saat menerima santunan dari PT Jasa Raharja. Secara simbolis, petugas Jasa Raharja Cabang Jateng menyerahkan santunan Rp 50 juta kepada Rian –panggilan Febrian—atas meninggalnya ibu dan adiknya. Petugas Jasa Raharja pun tidak menyangka Rian jadi ahli waris tunggal, karena ayah dan ibunya meninggal.

”Sesuai UU kami berkewajiban memberikan santunan kepada ahli waris. Ternyata ahli waris yang seharusnya ibu Dik Rian (Masrekhah, Red) menjadi korban. Kita rembukan dengan keluarganya, yang memiliki kewenangan dari pihak keluarga untuk siapa yang menjadi ahli waris. Untuk itu, kami bersilaturahmi sekaligus secara simbolis memberikan santunan kepada Dik Rian,” ujar Kabag Klaim PT Jasa Raharja, Oloan Sianipar.

Rian kini tinggal serumah dengan kakeknya, Tarmo. Sementara pamannya sesekali tinggal dan menginap di rumah kakeknya itu. ”Iya, kami telah menerima santuan dari Jasa Raharja. Sebelumnya kami telah berduka, karena ayah Rian juga meninggal karena kecelakaan,” kata Tarmo. (mg30/aro/ce1)