Keberagaman Budaya 18 Etnis di Salatiga

1346
SAMBUT TAMU: Penampilan salah satu peserta pawai budaya Indonesian International Culture Festival (IICF) 2017 di UKSW, Sabtu (22/4). (DHINAR SASONGKO/RADAR SEMARANG)
SAMBUT TAMU: Penampilan salah satu peserta pawai budaya Indonesian International Culture Festival (IICF) 2017 di UKSW, Sabtu (22/4). (DHINAR SASONGKO/RADAR SEMARANG)

SALATIGA – Barisan tim CS Marchingblek Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) yang kompak mengenakan kostum serba hitam mengawali Pawai Budaya Indonesian International Culture Festival (IICF) 2017, Sabtu (22/4). Disusul barisan 18 etnis yang menggunakan pakaian adat dari masing-masing daerah serta 5 partisipan internasional menambah semarak pembukaan perayaan keberagaman budaya di UKSW tersebut.

Barisan yang mencapai panjang hampir 200 meter ini pun menyedot perhatian warga Salatiga. Tampak jalan-jalan yang dilalui seperti Jalan Diponegoro, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Langensuko, Jalan Moh. Yamin, Jalan Kartini dan Jalan Monginsidi dipadati warga yang ingin menyaksikan pawai.

Bundaran Kaloka menjadi salah satu titik yang dipadati warga. Di lokasi inilah seluruh peserta menampilkan tarian tradisional dari daerah masing-masing. Mahasiswa yang tergabung dalam etnis Jawa misalnya, membawakan tari Sesonderan. Tiga penari menggunakan pakaian berwarna merah muda, kuning, dan merah tampil luwes membawakan tarian penyambutan tamu dari Malang, Jawa Timur ini.

Tak mau kalah mahasiswa Maluku tampil apik membawakan tarian cakalele. Tarian perang tradisional ini biasanya untuk menyambut tamu maupun perayaan adat. Belasan penari pria mengenakan kostum didominasi warna merah serta memakai penutup kepala warna merah yang disisipi bulu putih.

Pj Wali Kota Salatiga Ahmad Rofai dalam sambutannya berharap pesta keragaman budaya di kampus UKSW yang juga dikenal sebagai Indonesia Mini dapat selaras dengan kota Salatiga yang masyarakatnya juga terdiri dari multietnis. “Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini karena telah mendukung perdamaian dan kerukunan di kota Salatiga,” tutur Rofai.

Sementara Rektor UKSW Prof John A Titaley berharap, gelaran IICF 2017 dapat menjadi bukti bahwa UKSW ingin menjadi perguruan tinggi Kristen di Indonesia yang berakar pada ke-Indonesia-an. (sas/ton)