Menyikapi Musibah di Masa Iddah

621

Tanya Jawab Agama Islam

Bersama DR KH Ahmad Izzuddin, M Ag

Pengasuh  Pondok Pesantren Life Skill Daarun Najaah Wonosari Ngaliyan Semarang

Dosen UIN Walisongo Semarang di Harian Jawa Pos Radar Semarang

Bagi pembaca yang budiman, yang ingin bertanya apa saja seputar agama Islam. Bisa dikirim via SMS ke nomor HP: 08992777834/085640641611.

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Bapak DR KH Ahmad Izzuddin, M Ag di Jawa Pos Radar Semarang yang saya hormati dan dimuliakan oleh  Allah SWT. Saya ingin meminta penjelasan mengenai masalah iddah. Ada seorang perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya. Namun belum sampai selesai masa iddahnya, perempuan tersebut mendapat berita duka untuk kali kedua, yakni ayah kandungnya ikut menyusul kepergian suaminya, alias meninggal juga. Bagaimana hukum perempuan tadi menghadiri pemakaman ayahnya sedangkan dia masih dalam masa iddah? Dan bagaimana jika ada perempuan yang menggunakan obat pelancar haid untuk mempercepat masa iddah? Demikian pertanyaan saya, terima kasih atas penjelasan dan jawaban bapak. Wassalamu’alaikum Warahmatullah.

Atmim Nurona, di Demak 085640755xxx

Jawaban:

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Ibu Atmim Nurona di Demak yang saya hormati dan juga dirahmati Allah SWT. Perlu diketahui bahwa kami memandang perlu menjelaskan macam-macam iddah terlebih dahulu. Iddah adalah masa menunggu dan menahan bagi seorang perempuan setelah ditinggal meninggal oleh suami atau juga setelah bercerai. Iddah bertujuan untuk memastikan apakah rahimnya sedang dalam keadaan mengandung atau tidak. Mengandung yang dimaksud adalah baik mencakup makna janin, atau proses biologis sperma menjadi janin.

Iddah bagi perempuan yang sedang hamil adalah sampai perempuan tersebut melahirkan. Kemudian, iddah bagi perempuan yang tidak hamil adalah 4 bulan 10 hari. sedangkan bagi yang masih memiliki siklus haid, masa iddah-nya adalah sampai 3 kali suci dari menstruasi. Berbeda jika perempuan tersebut sudah tidak lagi memiliki siklus haid (menopause) iddah-nya adalah 3 bulan.

Dari pengertian ini, telah dijelaskan dalam Fatawa Fiqhiyah Kubro Jilid 4 bahwa status iddah seorang wanita yang minum  obat pelancar haid dengan asumsi agar iddah-nya cepat selesai adalah dianggap selesai, meskipun tidak menunggu sampai habisnya masa iddah.

Mengenai jawaban atas pertanyaan yang Ibu kemukakan di atas, terdapat perbedaan di antara imam mazhab dalam menjawabnya. Menurut Syafi’iyah, keluar rumah untuk menghadiri pemakaman orang tua, kerabat atau sanak seperti dalam permasalahan di atas tidak diperbolehkan. Namun menurut sebagian kalangan Malikiyah tetap disunahkan melakukan hal di atas bagi wanita tua. Sementara bagi wanita muda hukumnya makruh, bahkan bisa menjadi haram jika dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah. Demikian jawaban yang dapat saya sampaikan semoga ada manfaatnya dan barokah. Amin. Wallahu a’lam bishshowab. (*/ric/ce1)

Silakan beri komentar.