Belum Ada Komunikasi Antara Dua Keluarga Jenderal

2651
JADI KENANGAN: Almarhum Krisna Wahyu Nurachmad (kedua dari kiri) dan kakaknya Reyhan Cahyo (ketiga dari kiri) bersama saudaranya.
JADI KENANGAN: Almarhum Krisna Wahyu Nurachmad (kedua dari kiri) dan kakaknya Reyhan Cahyo (ketiga dari kiri) bersama saudaranya.

Peristiwa pembunuhan di SMA Taruna Nusantara ini mendapat perhatian khusus dari jajaran Polri dan TNI. Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono ikut datang langsung ke Magelang mendampingi penyelidikan kasus ini. Sementara Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengutus Irjen TNI Letjen M Setyo Sularso untuk mengawasi jalannya penyidikan kasus ini.

Selain karena kasus menonjol, kejadian ini melibatkan keluarga dua jenderal TNI dari pelaku dan korban. Ayah korban adalah almarhum Mayjen (purn) Kartotok sedangkan ayah pelaku pangkatnya juga mayjen. Pangkat bintang dua di TNI.

Hal itu dibenarkan oleh paman korban, Brigjen (Purn) Dudung Abdul Rahman. Dudung merupakan mantan Wakil Gubernur Akademi Militer Magelang. Dia selama ini yang merawat korban setalah ayahnya meninggal dunia.

Dudung mengaku paham dan kenal dengan orangtua tersangka. Karena juga dari kalangan TNI. “Saya kenal. Beliau (ayah tersangka) mantan petinggi TNI bintang dua,” jelas dia tanpa membeberkan nama maupun identitas keluarga tersangka.

Namun, hingga saat ini pihak keluarga tersangka belum melakukan komunikasi dengan keluarga korban. Komunikasi antardua keluarga jenderal tersebut masih belum terjalin. “Belum ada komunikasi dengan keluarga pelaku. Baik permintaan maaf atau apapun. Hingga saat ini, kami belum menerima,” katanya.

Dia mengatakan, keluarga merasa sangat kehilangan atas meninggalnya Kresna Wahyu Nurachmad yang merupakan anak bungsu dari empat bersaudara itu. Kakaknya juga masih menempuh pendidikan di SMA Taruna Nusantara.

Selama ini, kata dia, tidak ada kabar maupun tanda bahwa korban memiliki masalah dengan temannya. “Keponakan saya tidak pernah cerita kalau ada masalah dengan teman di sekolahnya. Sejauh ini baik-baik saja,” ungkap Ketua Tim Wasbang Mabes TNI ini.

Bahkan, lanjutnya, korban selama ini juga dikenal baik dan pandai. “Dia itu pandai. Di SMP hanya dua tahun. Dan di sini (SMA TN), ikut kelas akselerasi. Ia juga pendiam, namun taat beribadah,” tuturnya.

Saat ini, pihak keluarga hanya bisa menerima atas kepergian korban dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada pihak kepolisian. “Semua kami serahkan ke pihak kepolisian disini (Magelang). Kami percaya mereka mampu menyelesaikan kasus ini,” jelas Dudung. (vie/ton)