Hujan, Jalur Selo-Solo-Borobudur Diwaspadai

446

MUNGKID— Wilayah Kabupaten Magelang merupakan daerah rawan longsor. Selama sebulan terakhir, sudah terjadi 68 kejadian longsor yang tersebar di 21 kecamatan. Selain longsor, angin puting beliung juga masih menjadi ancaman.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang Edy Susanto meminta warga untuk terus meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Berdasarkan data BPBD, pada Januari tercatat ada 68 kejadian bencana alam yang mayoritas tanah longsor.

Pada bulan ini hingga Kamis (2/2), tercatat ada 14 kejadian bencana alam. Edy Susanto mengatakan, bencana alam terjadi di delapan kecamatan. Antara lain, Sawangan, Salaman, Pakis, Kaliangkrik, dan Borobudur. ”Kami mengimbau warga masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Melakukan pengecekan terhadap rekahan tanah dan pergerakan tanah. Kemudian, dibuatkan aliran air agar tidak masuk di rekahan tanah tersebut,” kata Edy saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin.

Berdasarkan prakiraan BMKG, kata Edy, Januari merupakan puncak hujan. Sedangkan pada Februari intensitas hujan mulai turun, meski begitu, masih dalam level tinggi. Untuk itu, pihaknya meminta warga masyarakat tetap waspada. ”Warga perlu meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan, terutama jika terjadi hujan.”

Sementara itu, jalur wisata Solo-Selo-Borobudur yang juga menghubungkan antara Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Magelang—terutama di kawasan Ketep, Sawangan— dalam sepekan tercatat tiga kali longsor. Untuk itu, jika terjadi longsor sewaktu-waktu, BPBD menyiapkan alat berat di jalur tersebut. “Jalur itu harus mendapatkan perhatian jika terjadi longsor karena berdampak sosial cukup tinggi.

Untuk itu, BPBD berkoordinasi dengan Dinas Bina Marga Provinsi tengah menyiapkan alat berat di daerah tersebut. Pihaknya berharap, dengan tersedianya alat berat, maka jika terjadi longsor sewaktu-waktu, bisa segera diatasi. Sebab, kawasan tersebut merupakan akses jalur wisatawan menuju Ketep Pass dan Borobudur. (vie/isk)