Pancaroba, Sebulan 128 Orang Terjangkit DB

751

SEMARANG – Musim pancaroba yang diikuti cuaca tidak menentu membuat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti di Kota Semarang mengganas. Dalam kurun waktu sebulan pada Januari 2017, tercatat 128 pasien demam berdarah (DB) dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanjeng Raden Mas Tumenggung (KRMT) Wongsonegoro Kota Semarang.

Angka tersebut menunjukkan penderita demam berdarah di Kota Semarang tinggi. Beruntung, tidak ada pasien yang meninggal dunia akibat infeksi virus dengue ini. ”Hari ini (kemarin, Red), kami masih merawat 16 pasien. 6 pasien di antaranya anak-anak dan 10 pasien dewasa. Salah satu pasien yang cukup parah ada seorang ibu hamil. Awalnya suhu badan panas, saat diidentifikasi ternyata demam berdarah,” kata Wakil Direktur Pelayanan RSUD KRMT Wongsonegoro Kota Semarang, Muhammad Abdul Hakam, Jumat (3/2) kemarin.

Dikatakannya, pasien yang menderita demam berdarah mulai dari usia balita hingga dewasa. Kebanyakan, pasien datang ke rumah sakit dalam kondisi fase yang parah. Sehingga diperlukan langkah penanganan cepat dan intensif agar pasien bisa diselamatkan.

”Musim pancaroba seperti ini sangat rawan adanya perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti. Karena itu, masyarakat harus meningkatkan kebersihan lingkungan rumah,” katanya.

Data penderita demam berdarah di Kota Semarang sejauh ini masih tinggi. Tercatat 2016 lalu sebanyak 1.319 kasus. Jumlah tersebut meningkat dari tahun sebelumnya 2015 tercatat sebanyak 1.245 kasus. ”2017, selama Januari saja tercatat 128 kasus demam berdarah. Ini terbilang tinggi,” katanya.

Dikatakannya, edukasi kepada masyarakat terkait kebersihan lingkungan perlu ditingkatkan. Terlebih ketika musim hujan seperti ini. ”Maka rumah harus selalu dijaga kebersihannya. Pakai pengaman misalnya, entah itu pakai lotion atau apa saja yang bisa mencegah perkembangbiakan nyamuk. Lingkungan tetap dijaga. Kalau kita bersahabat dengan lingkungan, pasti nyamuk juga tidak akan mengiggit,” katanya.

Selain itu, kata Hakam, pola hidup mengenai kebersihan lingkungan tersebut perlu ditanamkan pola hidup yang sehat, mulai dari diri sendiri dan lingkungan keluarga. Hal itu harus mampu dijaga, sehingga tidak perlu dilakukan tindakan fogging untuk membasmi nyamuk. ”Fogging itu kegiatan paling akhir yang dilakukan untuk membasmi nyamuk Aedes aegypti,” katanya.

Mengenai penanganan untuk penderita demam berdarah, Hakam menjamin bahwa pihak rumah sakit siap menindaklanjuti. ”Baik dipersiapkan SDM, obat-obat, semua sudah dipersiapkan untuk melakukan upaya penanganan lanjutan bagi pasien-pasien DB yang dibawa ke rumah sakit,” katanya.

Hal yang tidak kalah penting adalah upaya penanganan tingkat pertama, mulai menjaga kebersihan lingkungan rumah. Kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan bersih dan sehat ini yang harus terus ditingkatkan. ”Rumah sakit sebagai langkah penanganan tingkat lanjutan,” katanya.

Salah satu pasien demam berdarah di RSUD KRMT Wongsonegoro Kota Semarang, Ferian Arif, mengatakan awalnya merasa kepala pusing, perut mual, dan suhu badan panas. ”Rabu minggu lalu, saat istirahat sekolah mulai terasa badan tidak enak. Setelah pulang, kemudian dilakukan pemeriksaan, ternyata demam berdarah. Sampai sekarang sudah dirawat 6 hari,” kata siswa kelas tiga salah satu SMA di Kota Semarang ini. (amu/ida/ce1)