Untuk Biaya Hidup, Cuci Pakaian Teman Kos

Kemiskinan Tak Halangi Nur Riwayati Meraih Mimpi Bisa Kuliah

51675
TAK PATAH SEMANGAT: Nur Riwayati yang kini menjadi staf front desk Rektor UNNES. (Adennyar.wycaksono@radarsemarang.com)
TAK PATAH SEMANGAT: Nur Riwayati yang kini menjadi staf front desk Rektor UNNES. (Adennyar.wycaksono@radarsemarang.com)

Kisah hidup Nur Riwayati bisa jadi inspirasi. Ia berasal dari keluarga miskin. Namun semangatnya untuk mengejar cita-cita tak pernah surut. Kini, dia sudah menyandang gelar sarjana ekonomi dan bekerja di Universitas Negeri Semarang (UNNES). Berikut kisahnya?

ADENNYAR WYCAKSONO

Baca Juga:
Untuk Biaya Hidup, Cuci Pakaian Teman Kos
Sejak SD, Riwa Sudah Jalankan Pekerjaan sang Ayah
Di Sekolah Biasa Dipanggil ”Sinden”

KONDISI rumah orang tua Nur Riwayati di Dusun Trowangi, Desa Tegaron, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang cukup menggambarkan betapa miskinnya keluarga gadis yang akrab disapa Riwa ini. Rumah sederhana itu hanya berdinding kayu dan bambu tua dengan lantai tanah. Di sejumlah dinding harus ditopang bambu, karena bangunan nyaris ambruk dimakan usia. Kondisi dapurnya juga amat sederhana. Untuk memasak menggunakan tungku tanah lihat dengan bahan kayu bakar.

Meski begitu, tak menyurutkan Riwa untuk menuntut ilmu hingga perguruan tinggi. Padahal secara logika, sulit bagi Riwa untuk bisa menikmati bangku perguruan tinggi. Sebab, untuk makan sehari-hari saja susah. Orang tuanya bekerja serabutan. Bahkan Riwa harus ikut membanting tulang agar bisa mendapatkan sesuap nasi.

”Sejak kecil saya sudah membantu orang tua bekerja di sawah untuk bisa makan. Bahkan setiap pulang sekolah, saya harus mencari rumput untuk memberi makan ternak di mana ayah dan ibu saya bekerja,” kenang gadis kelahiran Kabupaten Semarang, 15 Oktober 1993 ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Hidup dalam kemiskinan, bukan berarti membuat Riwa dan keluarganya pasrah. Untuk biaya sekolah, Riwa selalu mencari beasiswa pendidikan agar cita-citanya untuk tetap sekolah terwujud. Cobaan dialami putri pertama dari tiga bersaudara ini saat tiba-tiba sang ayah meninggal dunia karena sakit.

”Saat itu, saya masih sekolah di SMK Diponegoro Salatiga. Setelah lulus, praktis saya harus mengubur impian bisa melanjutkan kuliah karena tidak ada biaya,” kata putri pasangan almarhum Subandi dan Suryanti ini.

Di saat itulah Riwa dipaksa untuk menikah dengan cara dijodohkan. Kebetulan Riwa memiliki paras cantik hingga banyak pria yang menaksirnya. Di desanya menikah dalam usia muda dianggap wajar. Apalagi masyarakat di desanya masih menganggap pendidikan bagi kaum hawa tidaklah penting. Karena ujung-ujungnya nantinya hanya mengurus anak dan melayani suami.

”Setelah lulus SMK, karena saya miskin, saya mau dijodohkan oleh saudara saya. Ibu saya tidak bisa berbuat apa-apa, karena hanya buruh serabutan, tapi saya mencoba berontak sampai kabur dari rumah karena ingin kuliah,” kenangnya.

Riwa yang punya prestasi akademik di sekolahnya, sempat mengikuti ujian masuk UNNES lewat jalur undangan, SNMPTN, dan SBMPTN. Namun ia selalu gagal. Hingga akhirnya ia mencoba ikut ujian masuk melalui Seleksi Mandiri UNNES. Dengan bekal uang Rp 50 ribu, ia pergi ke Semarang untuk ikut ujian. Dia juga membawa sepucuk surat yang ditujukan kepada Rektor UNNES saat itu, Prof Dr Sudiono Sastroatmojo MSi.