Talud Sepanjang 250 M Ambrol

Aliran Air ke Sawah Warga Terhambat

639
SIDAK: Anggota DPRD Jateng didampingi Kepala Desa Sendang, Samsudin, saat meninjau talud yang jebol, kemarin. (Eko.wahyu.budiyanto@radarsemarang.com)
SIDAK: Anggota DPRD Jateng didampingi Kepala Desa Sendang, Samsudin, saat meninjau talud yang jebol, kemarin. (Eko.wahyu.budiyanto@radarsemarang.com)

UNGARAN– Talud saluran irigasi sepanjang 250 meter di Desa Sendang, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang ambrol. Penyebab ambrolnya talud tersebut lantaran tingginya curah hujan dalam sebulan terakhir.

Kepala Desa Sendang, Samsudin, mengatakan, talud tersebut ambrol secara bertahap sejak awal Januari 2017 lalu. Awalnya, talud yang longsor hanya beberapa meter saja. “Warga sempat memperbaiki talud dengan tumpukan ratusan karung berisi tanah,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (29/1).

Namun talud buatan warga tersebut tak bertahan lama. Sabtu (28/1) malam, talud kembali ambrol mencapai panjang 250 meter. Bahkan, akibat terkena reruntuhan talud yang longsor, saluran irigasi ke lahan pertanian warga tersumbat. Padahal saluran irigasi tersebut dimanfaatkan warga di dua kecamatan, yakni Kecamatan Bringin dan Kecamatan Bancak. “Irigasi itu satu-satunya akses untuk mengairi sawah di dua kecamatan,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat warga di dua kecamatan tersebut semakin khawatir. Sebab, jika tidak segera dilakukan perbaikan, dikhawatirkan bisa mempengaruhi hasil pertanian mereka. Apalagi jika sudah memasuki musim kemarau. Di mana satu-satunya sumber air untuk pengairan sawah hanya dari saluran irigasi tersebut. “Karena mayoritas mata pencaharian warga di dua kecamatan tersebut kan petani. Apabila tidak segera dibenahi, dikhawatirkan jika kemarau sawah petani tidak teraliri air,” katanya.

Kondisi tersebut sempat mengundang simpati dari anggota DPRD Jateng. Minggu (29/1) kemarin, rombongan dewan melihat kondisi talud yang ambrol.

Anggota Komisi D DPRD Jateng, Siti Ambar Fathonah, mengatakan, seharusnya kerusakan itu langsung menjadi perhatian Pemkab Semarang. “Jika BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Semarang belum bisa meng-cover anggaran untuk memperbaiki bencana itu, kita siap mengusulkan pada BPBD provinsi,” ujarnya.

Dikatakan Ambar, dampak tingginya curah hujan beberapa minggu terakhir menyisakan bencana di beberapa titik di Kabupaten Semarang. Karenan itu, pihaknya mengimbau warga untuk tetap berhati-hati. “Apalagi kontur di Kabupaten Semarang banyak yang berbukit. Berita tentang lonsor juga banyak, makanya warga harus hati-hati,” pesannya.

Ambar memperkirakan anggaran untuk perbaikan talud tersebut mencapai Rp 250 juta. “Tapi, warga desa berharap talud tersebut dibangun seluruhnya. Panjangnya lebih dari 250 meter. Anggarannya sekitar Rp 2,5 miliar,” katanya.

Kasi Operasi Pengairan DPU Kabupaten Semarang, Agus Suharto, mengatakan, pihaknya akan menyampaikan kondisi tersebut ke pimpinan DPU. “Akan saya sampaikan, untuk bagaimana penanganannya nanti akan kita rapatkan terlebih dahulu,” ujarnya.

Pantauan di lapangan, warga desa setempat membuat bendungan sementara dengan menggunakan karung berisi tanah. Ratusan karung berisi tanah tersebut dipasang di pinggir saluran irigasi. Karena curah hujan tinggi, saluran air agak lancar meski sedikit tersumbat oleh tumpukan reruntuhan talud yang longsor.

“Kalau tidak segera ditangani, warga di dua kecamatan akan kekurangan suplai air untuk pengairan sawah, apalagi nanti memasuki musim kemarau,” katanya. (ewb/aro)