Bersama Komunitas Bagikan Ilmu Menggambar Gratis

Yuwanto, dari Hobi Menggambar Kini Jadi Komikus Profesional

1157
KREATIF: Yuwanto dan salah satu komik karyanya. (Abdul.mughis@radarsemarang.com)
KREATIF: Yuwanto dan salah satu komik karyanya. (Abdul.mughis@radarsemarang.com)

Sejak kecil, Yuwanto sudah hobi menggambar. Kini, dari hobi itu, ia meniti karier sebagai seorang penggambar buku komik (komikus) profesional. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

PEKERJAAN akan lebih menyenangkan jika berangkat dari hobi. Yuwanto, warga Jalan Gajah Timur Dalam IV, Gayamsari, Kota Semarang, salah satu orang yang mengembangkan hobinya menggambar hingga menjadi penggambar buku komik profesional.

Kelincahan jari tangan pria 29 tahun ini menggerakkan mata pena di atas kertas terasah, karena telah menjadi aktivitas rutin sejak kecil. Setiap kali melihat lembaran kertas, seolah tangannya gatal untuk mencorat-coret menjadi karya seni.

Tidak membutuhkan modal mahal. Karena hanya bermodal selembar kertas dan pena. Namun kejelian dan kepekaan menangkap ide, kemudian menuangkannya menjadi alur cerita bergambar. Banyak nilai, falsafah, maupun pesan moral yang dijejalkan.  Tentu ini bukan hal mudah karena dibutuhkan keahlian dan insting tajam.

”Memang menggambar dibutuhkan ketelitian, kecermatan dan kesabaran. Sebenarnya hobi ini murah. Tetapi jika disertai ketekunan, saya yakin hasilnya bisa menjadi sesuatu yang mahal,” kata Yuwanto kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Tidak ada hal sulit selama ia mencintai pekerjaan tersebut. Begitu pun Yuwanto. Ia melakukan aktivitas menggambar sejak kecil. Tetapi hingga sekarang ia mengaku terus belajar terhadap hal-hal baru. Sebab, pengetahuan selalu berkembang seiring perkembangan zaman.

”Nilai-nilai itulah yang membuat sebuah karya menjadi mahal. Bahkan karya seni bisa saja tak terhitung dengan uang. Maka saya merasa bangga dan termotivasi untuk terus belajar,” ujarnya.

Meski hobi menggambar sejak kecil, Yuwanto mengaku mulai menekuni profesi menggambar komik baru sejak 2014 silam. Sebuah komik bertema religi menjadi karya serius pertamanya. Hal itu membuat ia dilirik salah satu penerbit untuk membuat sebuah komik. ”Banyak jenis gambar memiliki tingkat kerumitan dan kesulitan. Mulai karakter tokoh kartun, tokoh film Jepang, hingga karikatur seseorang,” katanya.

Keahlian menggambar bisa berkembang apabila terus diasah. Kata bijak mengatakan tidak ada orang yang tidak berhasil, kecuali ia berhenti berusaha.
Begitu pun menggambar. Tak heran, di mana saja, kapan saja, Yuwanto selalu membawa peralatan gambar. Di saat waktu luang, tangan usilnya mulai bergerak menari di atas kertas.

”Menggambar bisa dilakukan di mana dan kapan saja. Baik indoor maupun outdor. Bahkan kala sedang nongkrong di tempat publik, menggambar bisa dilakukan menghadap langsung ke objek,” ujar pria yang saat ini menjadi Ketua Komunitas Lumpia Komik Semarang ini.

KREATIF: Yuwanto dan salah satu komik karyanya. (Abdul.mughis@radarsemarang.com)
KREATIF: Yuwanto dan salah satu komik karyanya. (Abdul.mughis@radarsemarang.com)

Hal paling yang bisa memengaruhi kualitas coretan gambar, menurutnya, adalah mood. Apabila seorang kehilangan mood, mengakibatkan kualitas gambar tersebut tidak maksimal. Maka menjaga mood menjadi hal penting.

”Kalau tidak mood, biasanya membutuhkan waktu lama. Selain itu hasilnya tidak bagus, karena terkesan dipaksakan,” kata lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Semarang (USM) ini.

Kesehariannya, ia bisa menghabiskan berlembar-lembar kertas. Tidak jarang, konsep goresan pena salah. Kemudian harus dengan sabar memulai lagi dari awal.

”Memang harus sabar dan disiplin itu berangkat dari kebiasaan. Maka saya dalam satu hari bisa menghabiskan berlembar-lembar kertas untuk menggambar. Rutinitas seperti itu akan mengasah teknik menggambar secara alami. Bahkan selepas pulang kerja pun, masih sempat menggambar,” kata pria yang juga bekerja sebagai layouter sebuah majalah ini.

Selebihnya, ia juga dibanjiri job pembuatan komik strip, hingga permintaan beragam desain dari berbagai kalangan. ”Karena masih berkaitan dengan seni menggambar, maka saya mengembangkan keterampilan di bidang desain dan layout,” ucapnya.

Tidak hanya itu, di sela kesibukannya bekerja dan menggambar, ia masih sempat melakukan aktivitas organisasi bersama Komunitas Lumpia Komik Semarang. Terutama di akhir pekan, ia berkumpul bersama teman-teman sesama penghobi menggambar komik.

”Kami terbuka dengan siapa saja yang tertarik dengan dunia menggambar. Tak jarang, kami berbagi pengalaman, cara maupun teknik menggambar untuk dibagikan secara cuma-cuma,” katanya.

Misalnya ada teman baru ingin belajar menggambar, ia bersama teman-teman komunitasnya memberikan arahan hingga pelatihan. Ia berharap bisa bermanfaat bagi orang banyak. Menularkan ilmu menggambar adalah salah satunya. Sehingga pertemuan  dengan orang baru sangat memungkinkan lahir penggambar komik baru. ”Kami mengajak untuk belajar dan harapannya mereka bisa berkembang,” ujarnya.

Menurutnya, banyak potensi seni menggambar dimiliki oleh generasi muda. Namun di Kota Semarang sendiri masih terbilang minim wadah untuk sekadar menampung para generasi komik. Apalagi wadah yang bisa mengarahkan agar mereka bisa belajar dan mengembangkan kompetensi.

Dia berharap agar kelak mampu memunculkan generasi komikus hingga dikenal di lingkungan nasional maupun internasional. Karenanya, ia getol menyebarkan virus menggambar komik kepada kalangan muda. Ia mengajak kepada generasi muda yang memiliki hobi menggambar agar terinspirasi untuk terus belajar dan berkarya.

”Potensi komikus lokal sebenarnya tidak kalah dengan komikus luar negeri. Hanya saja untuk mengekplorasi dari yang sekadar hobi menjadi karya besar ini masih perlu dikembangkan,” katanya. (*/aro/ce1)