Ajak Masyarakat Jaga Kerukunan tanpa Terpancing Isu

293
SALING MENGHORMATI: Perayaan 40 Tahun Sangha Theravada Indonesia Jawa Tengah, di Vihara Tanah Putih, kemarin. Sejumlah pemuka agama yang hadir menyerukan kerukunan antarumat beragama.(Abdul Mughis/Jawa Pos Radar Semarang)
SALING MENGHORMATI: Perayaan 40 Tahun Sangha Theravada Indonesia Jawa Tengah, di Vihara Tanah Putih, kemarin. Sejumlah pemuka agama yang hadir menyerukan kerukunan antarumat beragama.(Abdul Mughis/Jawa Pos Radar Semarang)

SEMARANG – Fenomena polemik politik belakangan yang menyeret isu agama kian meresahkan bagi kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Media sosial menjadi arena yang rentan memicu permusuhan hingga memecah belah umat. Untuk itu, umat Buddha di Kota Semarang mengajak semua elemen masyarakat agar tidak terpancing isu politik yang menyeret isu agama. Selayaknya, semua warga negara menebarkan kasih sayang untuk menjaga kerukunan antarumat beragama.

”Kita berbicara agama, berbeda dengan politik. Maka tidak perlu terpancing politik yang menyeret isu agama. Kalau agama baik dan buruk. Kalau itu buruk sudah tentu bukan ajaran agama. Semua agama pada dasarnya baik. Semua agama mengajarkan untuk berperilaku baik, menjauhkan diri dari kekerasan dan sifat membenci,” kata Biksu Vihara Tanah Putih Semarang, Biksu Cattamano Thera ditemui di sela-sela Perayaan 40 Tahun Sangha Theravada Indonesia Jawa Tengah, kemarin.

Dia menegaskan tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan, maupun menebar kebencian. Semua agama sejatinya mengembangkan ajaran-ajaran kebaikan. Sehingga dengan agama, manusia menemukan kedamaian. Jika manusia tidak memiliki agama, maka akan terombang-ambing. Namun demikian, perbedaan agama merupakan hak keyakinan masing-masing untuk dihargai. ”Kami mengajak umat untuk saling peduli terhadap penderitaan orang lain. Jadi, betul-betul mengajarkan sifat yang baik. Kalau ada makhluk lain yang menderita, kita harus membantu meringankan. Jangan sampai mereka semakin mengalami penderitaan. Kalau sama-sama mengembangkan cinta kasih akan damai,” ujarnya.

Di tengah situasi politik yang rawan terpecah belah, maka setiap orang dituntut untuk memiliki kebijakan agar tidak terjerumus. Setiap orang selayaknya memiliki kesadaran untuk membangun kedamaian dengan tidak melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. ”Melatih diri, menjalani kehidupan suci dan juga memberikan pengabdian demi kebahagiaan masyarakat,” paparnya.

Sebagai mana tema Karuna Santi Hening Karta (Menebar Kasih Membangun Kedamaian) dalam perayaan 40 tahun Sangha Theravada Indonesia kali ini. Dijelaskannya, setiap anggota Sangha Theravada Indonesia selalu melatih diri dengan penuh welas asih dalam membangun kedamaian. ”Umat Buddha meneladani para biksu. Seperti halnya anjuran tentang cinta kasih sangat dibutuhkan, tidak hanya untuk manusia tetapi untuk semua yang ada di dunia. Kami yakin, sifat-sifat luhur niscaya membentuk rasa aman, tenteram dan damai,” ungkapnya. (amu/zal/ce1)