Hidupkan Kembali Pengantin Semarangan

577

SEMARANG – Prosesi pernikahan adat asal Semarang kini mulai jarang digunakan. Rata-rata warga Kota Semarang justru memilih pernikahan tradisional adat Jogja atau Solo. Padahal rias pengantin Semarangan dan prosesinya berbeda dengan adat dari Jogja maupun Solo. Dari segi busana, pengantin Semarangan memiliki akulturasi berbagai budaya, di antaranya Jawa, Arab, dan Tiongkok dengan segi filosofi kemajukan budaya.

Selasa (13/9) sore kemarin, sepasang pengantin Semarangan diarak dengan menunggang dua ekor kuda diiringi pengusung kembar mayang dan rombongan keluarga pengantin yang mengenakan busana tradisional khas Semarang. Kirab dilepas oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Masdiana Safitri, dimulai dari depan Masjid Raya Baiturrahman, Lapangan Simpang Lima, dan berakhir di Mal Ciputra Semarang. Tak pelak, arak-arakan pengantin Semarangan ini pun menarik perhatian pengguna jalan. Arus lalu lintas jantung Kota Semarang itu sempat tersendat.

”Nilai-nilai akulturasi kebudayaan dan nilai religius pengantin Semarangan kini mulai ditinggalkan. Untuk itu, pemkot melalui Disbudpar berusaha menghidupkan dan mengangkat kembali budaya ini dengan mengadakan arak-arakan, seminar, dan lomba rias ini,” kata Kasturi, Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang usai acara seminar bertajuk Pengantin Semarangan di Atrium Mal Ciputra, kemarin.

Tujuan dari arak-arakan itu, kata dia, agar masyarakat bisa menyaksikan keindahan busana pengantin Semarangan, sekaligus melihat prosesi yang ada sebagai sarana sosialisasi.

”Seminar dan lomba rias ini bentuk sosialisasi, apalagi banyak sanggar rias pengantin yang belum tahu dengan adat asli Semarang.  Kalau digarap dan disosialisasikan pasti generasi muda akan tertarik, karena cenderung simpel dan tidak bertele-tele,” jelasnya.

Penasihat Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (Harpi) Kota Semarang, Adriyani Trisno, menjelaskan, jika tata rias pengantin khas Semarang di zaman modern ini semakin tersisihkan dan ditinggalkan. Padahal tata rias pengantin Semarangan memiliki nilai bobot filosofi yang sangat tinggi, dan menceritakan tentang kemajemukan budaya warga Semarang.