Fasilitas Publik Belum Ramah Difabel

646
MINIM: Jalur pedestrian di Kabupaten Semarang yang belum tamah difable. Selain itu kondisinya juga kurang layak, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MINIM: Jalur pedestrian di Kabupaten Semarang yang belum tamah difable. Selain itu kondisinya juga kurang layak, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MINIM: Jalur pedestrian di Kabupaten Semarang yang belum tamah difable. Selain itu kondisinya juga kurang layak, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MINIM: Jalur pedestrian di Kabupaten Semarang yang belum tamah difable. Selain itu kondisinya juga kurang layak, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN – Penyandang difabilitas di Kabupaten Semarang saat ini belum mendapat perhatian serius dari pemerintah setempat. Terlihat dari fasilitas publik, seperti halnya pedestrian dan kantor-kantor pelayanan publik belum menyediakan fasilitas yang ‘pro’ penyandang difabel

Bupati Semarang, Mundjirin mengakui‎ jika penanganan kaum difabel saat ini masih minim. Beberapa tempat penampung sementara, dan belum semuanya jalur pedestrian yang ramah difable dibangun. “Ini memang menjadi perhatian serius kita (Pemkab Semarang), karena saat ini saja untuk penampungan kaum difable kita belum punya. Jikapun ada itu milik Pemerintah Provinsi Jateng,” kata Mundjirin, Minggu (22/5).

Selain itu, jalur pedestrian kini dinilai belum ramah terhadap penyandang difabilitas. Bahkan untuk pejalan kaki saja, trotoar yang ada di Kabupaten Semarang masih belum ramah. Pantauan di lapangan, banyak bagian dari trotoar di sepanjang jalan utama yang justru rusak. Selain membahayakan pengguna jalan, mayoritas trotoar yang ada di pinggir jalan tidak melihat kebutuhan kalangan penyandang disabilitas.

Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kabupaten Semarang Arif Rohman mengatakan pembangunan infrastruktur di Kabupaten Semarang belum memberikan fasilitas pendukung bagi aktivitas kaum difabel. “Tidak hanya jalur pedestrian, ketika harus ke rumah sakit atau mall, kami, khususnya penyandang tuna netra harus kebingungan, tidak ada akses yang bisa membantu kami untuk pergi ke satu titik ke titik lain,” katanya.