Pengambilan ABT Marak, Perparah Rob dan Banjir

333
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang mengecek pompa penyedot air di Jalan Kaligawe.
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang mengecek pompa penyedot air di Jalan Kaligawe.

MARAKNYA pengambilan air bawah tanah (ABT) yang dilakukan secara terus-menerus oleh masyarakat Kota Semarang dikhawatirkan akan berdampak pada penurunan tanah. Selain itu, potensi terjadinya rob dan banjir juga semakin besar. Hal ini mendorong Pemkot Semarang segera turun tangan.

”Terkait hal ini, kita tidak bisa menyalahkan pengambil saja. Sebab, RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) juga berperan besar,” ungkap pakar infrastruktur Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Robert J Kodoati dalam diskusi bertajuk Mengatasi Permasalahan ABT di Kota Semarang yang digelar di Hotel Star Semarang, Senin (16/5).

Robert menjelaskan, RTRW Kota Semarang perlu segera direvisi. Sebab, daerah yang seharusnya menjadi daerah Imbuhan ternyata dijadikan daerah budidaya atau permukiman.

Menurut dia, Kota Semarang terdiri atas daerah Imbuhan, Transisi, dan Lepasan. ”Ketika air tidak dapat masuk ke daerah Imbuhan, maka menjadi air permukaan yang langsung turun ke Transisi dan Lepasan,” bebernya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, hampir 90 persen Kota Semarang merupakan Cekungan Air Tanah (CAT). Karenanya, tidak cocok jika dibuat embung untuk menahan air hujan. Ia lebih menyarakan pembuatan waduk air tanah sesuai teori pembagian tanah. ”Bagi daerah yang telanjur untuk permukiman, sebaiknya dibuat rongga-rongga yang mampu menahan air,” katanya.