Ungaran Tempat Favorit Buang Orgil

9448

UNGARAN-Banyaknya orang gila (orgil) yang terjaring operasi Satpol PP Kabupaten Semarang menunjukan jika daerah tersebut menjadi tempat favorit pembuangan orang gila (orgil). Setiap bulan ada saja orang gila baru yang masuk ke Kabupaten Semarang. Bahkan selama dua minggu terakhir, ada 24 orang gila yang terjaring operasi gabungan Satpol PP Kabupateng Semarang dan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Sejumlah orang gila tersebut selanjutnya dititipkan di rumah singgah di kawasan Sewakul, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. “Kami gelar operasi dua kali dalam sebulan ini. Pertama mendapatkan 8 orang gila dan beberapa waktu lalu dapat 6 orang,” tutur anggota Seksi Penegakan Perda, Satpol PP Kabupaten Semarang, Tri Kismanto, Rabu (4/5) kemarin.

Sementara itu, Ketua Yayasan Panti Sosial Rehabilitasi PGOT Ungaran, Ev Stevanus Sekar Sulian mengatakan bahwa pihaknya membuat rumah singgah di Ungaran sejak tahun 2010, karena banyak orang gila. Sebab, di Kabupaten Semarang menjadi tempat favorit untuk membuang orang gila.

“Salah satu jalan adalah membuat rumah singgah untuk menampung mereka. Sementara di sini, kalau sudah penuh dilimpahkan ke RSJ atau panti sosial milik pemerintah,” ujarnya.

Bahkan saat ini saja ada 21 orang gila yang ditampung di rumah singgah yang dikelola Sekar. Biaya operasionalnya dari iuran anggota dan bantuan dari pemerintah. “Disini hanya sementara, setelah diperiksa dan memang harus menjalani perawatan maka harus dirujuk ke RSJ,” tuturnya.

Terpisah Kasi Rehabilitasi dan Sosial, Dinsosnakertrans Kabupaten Semarang, M Amin menambahkan, kegiatan penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial rutin dilakukan 8 kali dalam setahun. Harapannya, dengan kegiatan tersebut pengemis gelandangan orang terlantar dan psikotik menurun.

“Masalah PGOT cukup mengganggu. Bahkan melanggar Perda ketertiban umum Perda Nomor 10 tahun 2014,” tuturnya.

Amin mengatakan, setelah terjaring operasi PGOT mereka ditempatkan di rumah singgah di kawasan Sewakul, Ungaran. Setelah melalui pemeriksaan mereka akan dirujuk ke RS Jiwa atau dikembalikan ke keluarganya. “Kalau kondisi kejiwaan baik dan bisa menunjukkan rumahnya, maka kami kembalikan kepada keluarganya,” katanya. (ewb/ida)