Peran Etika dan Tata Kelola Perusahaan pada Industri Tobacco di Indonesia

500

image001-web

Oleh:
TheoTheo Ardian

KEHIDUPAN sehari-hari tak asing bagi kita mendengar kata etika. Etika ini kemudian berkembang hingga saat ini kita juga mengenal etika bisnis. Sehingga etika bisnis dapat diartikan sebagai cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan, dan juga masyarakat.

Etika bisnis dan tata kelola perusahaan sepertinya tidak bisa terpisahkan dalam kegiatan bisnis, entah di industri apapun, dalam skala usaha seberapa besar pun, termasuk dalam kegiatan bisnis dalam industri rokok di Indonesia. Industri rokok menyumbang 1,66 persen total Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan ekspor dunia mencapai US$ 700 juta di tahun 2013. Selain itu, industri rokok menjadi sumber penghidupan bagi 6,1 juta penduduk Indonesia termasuk di dalamnya 1,8 juta petani tembakau dan cengkeh di Indonesia.

Namun, walaupun industri rokok menjadi salah satu penyumbang devisa yang besar bagi Indonesia namun banyak regulasi yang dibuat pemerintah Indonesia yang terkesan memberatkan para pengusaha rokok yang ada. Regulasi pemerintah yang pembatasan penyiaran iklan produk rokok, kenaikan harga cukai, regulasi mengenai kesehatan yang seolah-olah mempersempit gerak dari bisnis para pengusaha rokok di Indonesia. Dalam hal ini etika bisnis dan tata kelola perusahaan mengambil peran penting dalam keberlangsungan bisnis rokok yang ada untuk tetap bertahan dalam persaingan.

Total 1.644 unit usaha di industri rokok di Indonesia, ternyata enam perusahaan rokok menguasai pangsa pasar terbesar. Keenam perusahaan tersebut adalah PT HM Sampoerna Tbk, PT Gudang Garam Tbk, PT Djarum, PT Bentoel International Investama Tbk, PT Nojorono, dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk.

Dari ke enam perusahaan tersebut empat di antaranya merupakan perusahaan go public yang sahamnya sudah di-publish di Bursa Efek Indonesia. Kami mencoba membandingkan perusahaan rokok go public dimana salah satu perusahaan memiliki tata kelola perusahaan yang baik sedangkan yang lain dinilai kurang memiliki tata kelola perusahaan yang baik dari sektor Consumer GoodsIndustry, sub-sektor Perusahaan Rokok (Tobacco Manufacturers) yang diakses dari Factbook IDX 2015 dengan melihat rasio keuangan Price Earning Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV).