Semula Iseng Daftar, Justru Lolos Seleksi

Tri Suci Rahayu, Anak Pedagang Kerupuk Wakili Indonesia ke Eropa

714

Sejak pengumuman, Suci langsung fokus belajar demi menyabet prestasi di kompetisi mengenai proyeksi bisnis tersebut. Maklum, mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Gajah Mada (UGM) DIJ ini hanya punya waktu efektif sekitar dua bulan. Pertengahan April kemarin, dia sudah harus terbang ke Eropa untuk mengikuti rangkaian jadwal kompetisi. ”Semua akomodasi dan tiket pesawat, ditanggung oleh pihak kampus dan perkumpulan orang tua atau wali mahasiswa,” cetusnya.

Di sana, Suci menggandeng peserta dari Georgia dan Spanyol untuk membuat kelompok bernama Rise of The Sloths. Dalam kompetisi selama tiga hari itu, Suci dan kelompoknya diharuskan membuat presentasi tentang usaha yang akan dilakukan.

Sayang, usahanya tidak semulus harapannya. Suci gagal mengibarkan bendera Indonesia di podium. Meski gagal menyandang predikat juara, Suci mengaku sudah cukup puas. Dia merasa sudah mengoleksi banyak pengetahuan selama mengikuti kompetisi tersebut.

Prestasi Suci di kancah pendidikan sebenarnya sudah kentara sejak duduk di bangku SMP. Meski disibukkan dengan membantu menjual kerupuk hasil produksi orang tuanya, putri pasangan Wawan Ridwan dan Nunung ini tidak meninggalkan waktu belajar. Baginya, memegang buku pelajaran di malam hari, sudah jadi hal wajib meski hanya sebentar. Barang 10-30 menit.

Meski jam belajar di rumah tergolong minim, toh Suci selalu memperoleh nilai tinggi setiap ujian sekolah. Bahkan, dia diterima di SMAN 3 Semarang dengan mudah. Tidak puas sampai di sini, Suci masih terus mempertahankan keuletannya. Dia berhasil masuk kelas IPA karena memang suka dengan matematika dan dunia berhitung.

Ketika lulus SMA, Suci mendapatkan surat penawaran dari UGM. Tanpa pikir panjang, dia mengiyakan untuk masuk ke kampus ternama itu lewat jalur undangan. ”Saya masuk UGM pada 2012. Alhamdulillah selalu mendapat beasiswa,” ujarnya sembari tersenyum.

Sementara itu, sang ayah, Wawan mengaku selalu berusaha membangun mental anak-anaknya. Minimal tidak minder punya orang tua yang tidak kaya. ”Pada anak-anak, termasuk Suci, selalu saya tekankan, jangan malu jadi anak tukang kerupuk. Kalau mau hidup enak, raihlah prestasi semaksimal mungkin,” tandasnya. (*/ida/ce1)