Jumlah Angkutan Desa Kurang Memadai

440

SEMARANG – Jumlah angkutan desa (angkudes) di beberapa darah di Jawa Tengah dirasa kurang memadai. Menurut Pengamat Transportasi, Djoko Setijowarno, kurangnya jumlah angkudes ini akan menjadi penghambat perputaran ekonomi dan perkembangan pendidikan.

Dikatakannya, hingga sekarang, masih banyak warga desa yang memanfaatkan angkutan ternak sebagai tumpangan alternatif menuju desa lain. Selain tidak nyaman, sisi keselamatannya pun berisiko tinggi. ”Padahal, transportasi itu bukan saja untuk penumpang orang, tapi juga barang. Ini bisa membantu perputaran ekonomi,” ucapnya.

Selain itu, angkudes bisa digunakan para pelajar untuk pulang-pergi ke sekolah. Dikatakan Djoko, meski pendidikan bisa murah atau bahkan gratis, jika tidak didukung transportasi yang memadai, tetap saja ada kendala warga desa untuk mengenyam bangku pendidikan.

Dia berharap, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah harus bisa mendorong pemerintah kabupaten untuk pengadaan angkutan pedesaan. Ini merupakan follow up dari usulan Bupati Kebumen, Muhammad Yahya Fuad. ”Ketika daerah lain fokus mengusulkan perbaikan infrastrukur, Bupati Kebumen justru mengusulkan penambahan angkudes yang murah bagi masyarakat dan pelajar,” tegasnya.

Menanggapi hal itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengaku tertarik dengan usulan Djoko. Sayang, pengadaan untuk penambahan armada angkudes nyaris mustahil karena dianggap high cost, butuh banyak anggaran. Dia justru punya mendorong pemkab menggandeng pengusaha transportasi untuk mendapatkan subsidi angkudes bagi masyarakat dan pelajar. ”Angkutan yang sudah ada itu kalau bisa diinventarisasi saja. Lalu, pemilik kendaraan dikontrak pemkab agar tidak perlu mengadakan kendaraan. Kalau pengadaan kan mahal,” bebernya.

Menurutnya, angkudes menjadi hal menarik untuk diperhatikan selain pembenahan infrastruktur. Sejak menggelar musrenbang di empat eks-karesidenan, setidaknya sudah ada 13 ribu usulan kegiatan yang sebagian besar mengenai pembangunan infrastruktur. ”Bappeda kami (pemprov) mencatat ternyata semua yang diminta itu infrastruktur. Hanya Kebumen yang mintanya berbeda. Karena mereka ingin mengentaskan kemiskinan, mereka mengusulkan transportasi untuk orang miskin dan anak-anak sekolah,” pungkasnya. (amh/zal/ce1)