SMPN 16 Minta Ganti Lahan 2 Hektare

Terdampak Tol Semarang-Batang

1444
TERGUSUR: SMP Negeri 16 Semarang di Jalan Prof Dr Hamka, Ngaliyan yang bakal terkena proyek tol Semarang-Batang. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TERGUSUR: SMP Negeri 16 Semarang di Jalan Prof Dr Hamka, Ngaliyan yang bakal terkena proyek tol Semarang-Batang. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

NGALIYAN – SMPN 16 Semarang ini berharap mendapatkan ganti untung, demi kepentingan proyek Trans Jawa, jalan tol Semarang-Batang. Sekolah Standar Nasional (SSN) di Jalan Prof Dr Hamka, Ngaliyan ini berharap pindah lokasi dengan menempati lahan paling tidak seluas 2 hektare, di pinggir jalan raya yang tidak jauh dari lokasi sekarang.

”Soal pencarian lahan, sudah ditangani Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang yang berkoordinasi dengan pihak kecamatan dan kelurahan. Kalau bisa, minimal luas lahannya 2 hektare agar bisa memiliki beberapa lapangan. Luas lahan sekarang nyaris 1 hektare,” tutur Kepala SMPN 16 Semarang, Yuli Heriani ketika ditemui di kantornya, kemarin.

Agar bisa cepat beradaptasi, pihaknya berharap bisa mendapatkan lahan yang masih di bilangan Kecamatan Ngaliyan. Jika terpaksa, Yuli mencoba memberikan solusi ruilslag atau tukar lokasi dengan lahan milik Pemkot Semarang. Dia mencontohkan ruilslag dengan Pasar Ngaliyan atau tempat-tempat yang tidak terlalu jauh dari jalan raya.

”Kalau letak sekolah dekat dengan jalan tol, pasti akan mengganggu kegiatan belajar mengajar di kelas. Terutama suara-suara kendaaran besar yang melintas. Tapi kalau aktivitas pasar, mungkin tidak terlalu terganggu,” tuturnya.

Mengenai target mendapatkan lahan, Yuli tidak terlalu ambil pusing. Dia yakin tidak mungkin telantar. Pemerintah pasti sudah mempertimbangkan dampaknya, jika tidak segera mendapatkan lokasi. Tidak mungkin kegiatan belajar mengajar terpaksa berhenti gara-gara sekolahannya harus dirobohkan demi kepentingan pemerintah.

”Sampai sekarang, memang kami belum diberi tahu kapan harus segera pindah. Tidak pernah ada sosialisasi. Yang jelas, sudah harus ada bangunan sekolah pengganti dulu, baru kami bisa pindah,” tegasnya.

Yuli mengaku, para guru dan murid sudah tidak telalu panik seperti awal-awal ada isu penggusuran sekolahan. Pasalnya, isu ini sudah terdengar sekitar delapan tahun silam. Memang sudah ada patok-patok untuk memberi tanda lahan yang akan diambil alih untuk jalan tol.