Ratusan Siswa SMPN 25 Serasa di Makkah

3296

Sedangkan guru agama Islam, Muayanatul Birroh, 58, menjelaskan bahwa pihaknya sengaja menanamkan pelajaran agama dengan praktik langsung. Dengan demikian, pelajaran agama Islam akan lebih menginternalisasi ke dalam diri siswa-siswi. Dengan praktik langsung, minimal siswa-siswi memiliki harapan dan mimpi untuk bisa sampai ke Tanah Suci Makkah dan Madinah.

”Selama ini, banyak orang yang mau beribadah haji belum tahu apa yang akan dilakukan di Tanah Suci. Tapi dengan adanya lokasi manasik yang lengkap dengan suasana serasa di Tanah Suci beneran ini, memudahkan siswa-siswi memahami beberapa ibadah selama haji,” tuturnya.

Apalagi tempat manasik haji Fatimah Zahra ini, imbuhnya, urut mulai dari Bandara King Abdul Azis, tempat imigrasi, tempat mulai mengenakan pakaian ihram, hingga sampai ke Masjidil Haram melakukan thawaf dan sya’i. ”Namun tempat ini, perlu dibuka untuk umum. Agar masyarakat luas bisa merasakan bagaimana manasik haji. Tidak hanya jamaah yang akan berangkat haji atau anak-anak sekolah yang praktik manasik haji saja,” kata Birroh yang didampingi keponakannya, Naviatus Shalihah, asal Ketapang, Kalimantan Barat, yang kuliah di Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini.

Mahasiswa pendidikan akuntansi Unnes yang kerap disapa Ovi ini, pernah melihat replika Kakbah di Depok. Namun lebih besar di Fatimah Zahra. ”Ini tempat manasik haji yang megah banget. Ini pengalaman yang bisa saya share ke teman dan saudara saya di Ketapang,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) Fatimah Zahra, Mochamad Rifky Azady menyatakan bahwa pihaknya masih terus melengkapi bangunannya. Termasuk replika Padang Arafah, Bukit Safa dan Marwah untuk berlatih sai (berlari-lari kecil antara kedua bukit itu), replika Mina, Muzdalifah (tempat jamaah mabil (bermalam), dan Jabal Rahmah. ”Kami akan membuka untuk umum. Tempat ini akan menjadi destinasi wisata religi di Kota Semarang. Namun kami masih terus melengkapi dan menyempurnakan bangunan,” tandasnya. (ida/ce1)